RELUNG.ID – Tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Ulil Abshar Abdalla, menjadi perbincangan publik usai pernyataannya dalam debat seputar pertambangan nikel di Raja Ampat viral di media sosial.
Dalam tayangan debat yang disiarkan Kompas TV bertajuk “Debat PBNU dan Aktivis soal Tambang Nikel Raja Ampat”.
Ulil menyebut sikap aktivis lingkungan yang menolak tambang sebagai bentuk dari “wahabisme”.
Pernyataan tersebut disampaikan Ulil saat berdebat dengan Iqbal Damanik, Juru Kampanye Hutan dari Greenpeace Indonesia.
Dalam perdebatan itu, Iqbal mempertanyakan keberhasilan industri tambang di Indonesia dalam mengembalikan ekosistem ke kondisi semula.
Iqbal juga menantang Ulil untuk menunjukkan satu wilayah pertambangan yang berhasil melakukan hal tersebut.
Menanggapi tantangan itu, Ulil menyoroti cara pandang aktivis yang terlalu idealis dan membandingkannya dengan perubahan lingkungan di kampung halamannya akibat pertumbuhan penduduk.
Ulil kemudian menyebut sikap Iqbal sebagai bentuk “wahabisme”, merujuk pada pendekatan yang dianggap terlalu kaku dan menolak kompromi.
Sontak pernyataan Ulil Abshar Abdalla ini mendapat reaksi dan sorotan publik, Siapa sosok Ulu Abshar Abdalla”
Dia lahir di Pati, Jawa Tengah, pada 11 Januari 1967. Ia merupakan putra dari ulama pendiri Pesantren Mansajul Ulum, KH Abdullah Rifai.
Ulil menempuh pendidikan di Madrasah Mathali’ul Falah dan sempat belajar di LIPIA Jakarta serta Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara.
Ia meraih gelar magister di bidang agama dari Boston University dan menjalani studi doktoral di Harvard University, Amerika Serikat.
Ulil dikenal sebagai pendiri dan mantan koordinator Jaringan Islam Liberal (JIL). Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Lakpesdam NU serta terlibat dalam berbagai lembaga lintas iman, seperti ICRP dan MADIA.
Di bidang media, ia pernah menjadi pemimpin redaksi jurnal pemikiran Islam, Tashwirul Afkar.
Saat ini, Ulil menjabat sebagai Ketua PBNU, dan aktif menggelar kajian daring tentang kitab Ihya Ulumuddin. Ia dikenal luas karena pemikirannya yang mendorong interpretasi Islam yang lebih terbuka, toleran, dan inklusif.
Pada tahun 2011, Ulil menjadi target teror bom buku yang menghebohkan publik. Ia juga merupakan salah satu tokoh yang secara terbuka mengkritik gagasan negara khilafah dari organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). (vid)

