RELUNG.ID- Aksi ratusan siswa SMAN 4 Kota Serang, Banten, mendadak viral di media sosial. Mereka menggelar unjuk rasa di lingkungan sekolah untuk menuntut penanganan serius atas dugaan pelecehan seksual yang diduga dilakukan oleh seorang oknum guru.
Aksi berlangsung pada Senin (21/7/2025) dan diwarnai teriakan solidaritas para siswa dan alumni yang meminta perlindungan dan keadilan bagi korban. Mereka membawa spanduk dan menyampaikan orasi secara terbuka di halaman sekolah.
Namun suasana sempat memanas saat sejumlah aparat dan pihak sekolah berupaya membubarkan massa aksi. Dalam video yang beredar di akun Instagram@ sma4nfour14, terlihat siswa-siswi berusaha masuk ke lobi sekolah, namun dihalangi aparat. Beberapa siswi terlihat panik dan menangis, sementara sebagian lainnya merekam kejadian tersebut menggunakan ponsel.
Unggahan di media sosial, salah satunya dari akun @bro.ronaldasinaga, menyebut adanya dugaan intimidasi terhadap siswa yang mengikuti aksi.
“Kericuhan yang terjadi di SMAN 4 Kota Serang. Siswa/i mendapatkan intimidasi dari pihak sekolah dan aparat, saat mencoba membuka pagar lobby sekolah,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.
Tidak hanya siswa aktif, aksi juga diikuti oleh sejumlah alumni yang kini berstatus mahasiswa. Mereka berdiri di luar pagar sekolah dan turut menyuarakan tuntutan agar pihak terkait segera menindaklanjuti dugaan kasus yang sudah lama beredar di lingkungan sekolah.
Di tengah ramainya perhatian publik, seorang siswi yang mengaku sebagai korban mulai berani bersuara. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube “Gelas Kosong Podcast”, siswi tersebut menceritakan kronologi dugaan pelecehan yang dialaminya sejak duduk di bangku kelas 10.
Menurut pengakuannya, peristiwa terjadi di ruang olahraga saat praktik pelajaran silat. Korban menyebut dirinya sempat disentuh secara tidak pantas oleh sang guru. Saat kelas 12, ia kembali mengalami kejadian serupa, dengan modus dipanggil untuk mengoreksi nilai ulangan.
“Pas dia ngelakuin kayak gitu, aku bilang ‘Pak, apaan sih, jangan gitu’. Dia cuma bilang ‘ssst’, terus aku kabur,” ungkap korban.
Korban mengaku sempat ingin melapor ke guru pembimbing, namun mengurungkan niat karena mendengar cerita dari korban lain yang merasa tidak mendapat dukungan.
“Katanya kalau lapor ke guru BK malah disalahin karena pakaian. Jadi akhirnya cuma cerita ke teman,” katanya.
Korban mengaku merasa lega setelah banyak pihak mulai bersuara dan kasus ini mendapat perhatian luas. Ia berharap tidak ada lagi korban yang harus diam dalam ketakutan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak SMAN 4 Kota Serang. Publik dan warganet pun mendorong Dinas Pendidikan Provinsi Banten serta aparat penegak hukum untuk turun tangan dan memastikan lingkungan sekolah menjadi tempat yang aman dan bebas dari segala bentuk kekerasan. [YKP]

