RELUNG.ID- Ratusan warga Kecamatan Tanjung Sakti, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, bersama sejumlah mahasiswa turun ke jalan, Kamis (29/5), menyuarakan penolakan keras terhadap rencana eksplorasi panas bumi (geothermal) oleh PT Hitay Energy. Aksi unjuk rasa berlangsung damai dan dikawal ketat aparat kepolisian.
Massa aksi mulai berkumpul sejak pukul 08.00 WIB di Tugu Perjuangan Rakyat Tanjung Sakti. Dengan membawa spanduk dan karton berisi kecaman terhadap aktivitas perusahaan, mereka melakukan longmarch menuju kantor camat untuk menyampaikan tuntutan secara langsung.
Dalam orasinya, para pengunjuk rasa menolak keras segala bentuk eksploitasi sumber daya alam di Tanjung Sakti. Mereka menilai rencana eksplorasi geothermal oleh PT Hitay Energy berpotensi merusak lingkungan, mengganggu pemukiman warga, dan memicu bencana alam di kemudian hari.
“Kami masyarakat sepakat menolak eksploitasi sumber daya alam di tanah ini. Jangan jadikan kampung kami sebagai korban proyek yang hanya menguntungkan segelintir orang,” tegas salah satu orator di tengah kerumunan massa.
Warga juga mempertanyakan sikap tertutup pihak perusahaan yang dinilai tidak pernah melakukan sosialisasi atau melibatkan masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait proyek tersebut. Minimnya transparansi dianggap sebagai bentuk pengabaian terhadap hak masyarakat atas lingkungan yang sehat.
“Tidak ada satu pun warga yang diajak bicara. Tahu-tahu sudah ada rencana eksplorasi. Ini proyek siluman yang bisa menghancurkan masa depan anak cucu kami,” tambah peserta aksi lainnya.
Penolakan terhadap proyek geothermal ini sudah lama bergulir dan mendapat dukungan luas dari berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh adat, petani, dan pemuda setempat. Mereka khawatir perubahan fungsi kawasan hulu di Tanjung Sakti menjadi wilayah industri akan merusak ekosistem, mengeringkan sumber air, hingga memicu bencana seperti banjir bandang dan longsor.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Sumatera Selatan juga turut menyatakan sikap mendukung aksi warga. Kepala Divisi Kampanye WALHI Sumsel, Febrian Putra Sopa, menegaskan bahwa eksploitasi sumber daya alam di kawasan sensitif seperti Tanjung Sakti harus dihentikan.
“Dampaknya bisa sangat serius: erosi, polusi, kekeringan, bahkan punahnya habitat satwa liar. Kawasan hulu ini penting bagi ekosistem sekitar dan tidak bisa dikorbankan demi kepentingan industri,” ujar Febrian.
Massa menuntut agar pemerintah daerah dan pusat segera menghentikan rencana proyek geothermal oleh PT Hitay Energy di wilayah mereka. Jika tidak direspons, warga mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar.
“Kami tidak akan diam. Ini tanah kami, kehidupan kami. Kami akan terus melawan,” tutup orator aksi di hadapan aparat dan pejabat setempat.[TFK]

