RELUNG.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti Kota Palembang. Dalam beberapa hari terakhir, warga merasakan kualitas udara memburuk terutama pada pagi hari, seiring meningkatnya aktivitas kebakaran di sejumlah wilayah Sumatera Selatan.
Di tengah ancaman tersebut, pemerintah daerah mulai mengantisipasi dampak kesehatan yang dapat ditimbulkan asap. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel bahkan telah meminta bantuan masker kepada pemerintah pusat untuk melindungi masyarakat dari paparan polusi udara.
Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, mengatakan asap karhutla kini tidak lagi hanya dirasakan di sekitar lokasi kebakaran, tetapi sudah masuk ke kawasan perkotaan termasuk Kota Palembang.
“Empat hari ini sudah terasa. Kalau pagi hari, asap yang masuk ke Kota Palembang sudah sangat terasa,” ujar Iqbal, Jumat (7/8/2026).
Meningkatnya kabut asap terjadi ketika upaya pemerintah untuk mendatangkan hujan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) belum membuahkan hasil yang diharapkan. Selama tiga hari pelaksanaan OMC yang didukung Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tim di lapangan kesulitan menemukan awan hujan yang cukup untuk disemai.
Menurut Iqbal, minimnya pertumbuhan awan menjadi kendala utama sehingga pembasahan lahan melalui hujan buatan belum dapat dilakukan secara maksimal.
“Selama tiga hari OMC dilakukan belum menemukan awan hujan. Memang kondisi awan hujan di Sumsel saat ini sangat tipis,” katanya.
Kondisi tersebut membuat ancaman asap semakin sulit ditekan. Apalagi musim kemarau diperkirakan masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan, sementara titik-titik kebakaran terus bermunculan di sejumlah daerah.
Saat kunjungan Menteri Kehutanan ke Sumsel beberapa waktu lalu, BPBD menyampaikan sejumlah kebutuhan untuk mendukung penanganan karhutla. Salah satu yang menjadi prioritas adalah bantuan masker bagi masyarakat yang mulai terdampak kabut asap.
Masker dinilai penting untuk mengurangi risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat yang banyak beraktivitas di luar ruangan.
Iqbal menegaskan, dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan. Kabut asap yang ditimbulkan juga dapat memengaruhi kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi hingga hubungan dengan negara tetangga apabila pencemaran udara meluas.
“Asap ini mengganggu kesehatan, mengganggu perekonomian, dan mengganggu hubungan bilateral,” tegasnya.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 7 Agustus 2026 menunjukkan kualitas udara di Palembang berada pada kategori sedang. Kondisi serupa juga terjadi di Ogan Ilir, Prabumulih, Musi Banyuasin, dan Muara Enim.
Namun situasi yang lebih mengkhawatirkan tercatat di tiga daerah lain. Musi Rawas, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Lahat telah masuk kategori tidak sehat, menandakan tingginya konsentrasi polutan di udara akibat kebakaran lahan.
Sepanjang periode 1 Januari hingga 6 Agustus 2026, BPBD Sumsel mencatat sebanyak 872 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 664,87 hektare. (THQ)

