RELUNG.ID – Delapan rumah mungil dengan ukuran 6×12 meter berdiri sunyi di tengah hamparan lahan yang mulai ditumbuhi semak belukar.
Cat bangunan yang memudar, tak ada aktivitas penghuni, yang ada hanyalah pepohonan menjulang menutupi sebagian perumahan bernama Gandus Land City yang berlokasi di Jalan Mustika, Kecamatan Gandus, Kota Palembang, Sumatera Selatan, Rabu, 12 Agustus 2026.
Panel Surya dahulunya menjadi simbol ambisi besar juga terlihat raib dari atap rumah yang berlokasi di Mustika Gandus, Kecamatan Gandus, Palembang ini.
Kini proyek digadang sebagai masa depan perumahan subsidi nasional ini kandas dan menjadi sebuah perumahan tak berpenghuni setelah empat tahun pembangunannya.

Dari target pembangunan sekitar 500 unit rumah, hingga kini hanya delapan unit yang sempat berdiri dan seluruhnya terbengkalai.
Padahal saat diperkenalkan pada 2022, proyek ini membawa harapan besar. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Kementerian PU menggandeng pengembang PT Karya Anak Negeri untuk menghadirkan rumah subsidi berkonsep hijau yang menggabungkan harga terjangkau dengan teknologi energi terbarukan.
“Proyek perumahan ini terpaksa tidak dilanjutkan karena sengketa, dan infonya masih proses di MA (Mahkamah Agung)” kata Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Pemprov Sumsel, Basyaruddin Akhmad yang dahulunya sempat menjabat Kepala Dinas PUCK Sumsel.
Dia mengaku, konsep yang diusung perumahan ini sebenarnya cukup revolusioner. Tidak sekadar menyediakan rumah murah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), proyek ini juga dirancang menjadi contoh implementasi transisi energi di sektor perumahan.
Setiap rumah dipersiapkan menggunakan panel surya (PLTS Atap) berukuran 1×1,5 meter yang terhubung ke jaringan PLN atau On Grid.
Energi listrik yang dihasilkan diperkirakan mampu mencapai 1.000 hingga 1.500 watt sehingga dapat menekan konsumsi listrik rumah tangga hingga sekitar 40 persen. Bahkan sebagian pembeli dijanjikan memperoleh kompor induksi.
Menariknya, harga rumah ini pun lebih murah dibandingkan rumah subsidi yang dipasarkan sekitar Rp166 juga. Hal ini dikarenakan konsep perumahan menggunakan rumah cetak yang dikembangkan melalui kolaborasi Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dengan PT Semen Indonesia Group (SIG)
“Harganya itu sekitar Rp110 juta per unit kalau tidak salah,” terangnya.
Lahirnya proyek ini tidak lepas dari situasi pandemi Covid-19. Saat itu, program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) terhenti sehingga banyak masyarakat kehilangan kesempatan memperoleh rumah.
Saat itu, muncul ide Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk membangun rumah cetak melalui kolaborasi berbagai pihak. Kolaborasi tersebut kemudian berkembang menjadi proyek perumahan hijau yang dilengkapi teknologi energi terbarukan.

Kala itu, konsep ini pun menarik perhatian berbagai pihak termasuk Bank Dunia yang ikut mendukung pengembangan Green Housing.
Tak hanya itu, beragam pihak ketiga juga ikut serta dan membantu dalam pengembangan perumahan ini mulai dari penanaman seribu pohon dan lain sebagainya.
“Untuk fasilitas panel surya ini kolaborasi pihak pengembang bersama penyedia panel surya sehingga mereka bersedia menambah fasilitas tersebut,” terangnya.
Hanya saja, dalam perjalanannya muncul gejolak. Padahal, lahan pengembang ini sudah clear and clean. Tetapi, tetap saja menjadi sebuah sengketa yang akhirnya menghentikan proyek tersebut.
“Sebelumnya itu gak ada masalah ketika sudah ada pembangunan, kalau tidak salah ada delapan rumah. Muncullah permasalahan sengketa ini,” ujarnya.
Kini perumahan tersebut menjadi bangunan kosong tidak berpenghuni yang perlahan mengalami kerusakan. (Bersambung)
Liputan ini didukung oleh Yayasan Indonesia Cerah dan AJI Palembang.

![Liputan Khusus: Proyek Rumah Hijau di Sumsel Kandas [Bagian Pertama]](https://relung.id/wp-content/uploads/2026/08/IMG-20260720-WA0048-1024x768.jpg)