RELUNG.ID – Jarum jam menunjuk pukul 08.00 WIB, aktivitas mulai memenuhi sebuah rumah sederhana di kawasan Perumahan Talang Sari, Kelurahan Kenten Laut, Kecamatan Talang Kelapa, Sumatera Selatan.
Enam perempuan sibuk dengan tugas mereka masing-masing, mulai dari membuat adonan pempek, membentuk dan memasak.
Sebagian lainnya memastikan satu per satu produk dikemas dengan rapi sebelum dikirim kepada pelanggan di berbagai penjuru Indonesia, hingga melintasi batas negara menuju Hong Kong dan Jerman.
Di tengah kesibukan itu, layar ponsel juga menjadi bagian penting dari aktivitas produksi. Sang kakak turut membantu memasarkan pempek melalui siaran langsung di salah satu platform e-commerce.
Dari balik layar, rumah sederhana yang ditempati sebuah keluarga ini menjelma menjadi dapur produksi pempek yang perlahan berkembang dari pasar lokal hingga menembus pasar nasional dan internasional dengan memanfaatkan kekuatan teknologi digital.
“Saya tidak menyangka usaha pempek ini bisa sampai ke Hongkong dan Jerman,” kata Abin (26), pemilik Pempek Abin Anissa saat ditemui, Kamis (24/9/2026).

Sejak kecil, dirinya hidup dalam keterbatasan ekonomi ditambah lagi, saat mengenyam bangku kuliah, dirinya harus kehilangan kedua orang tuanya.
Hal ini lantas tidak membuatnya menyerah dan berupaya untuk tetap berdiri di atas kakinya sendiri. Sejak saat itu, dia bermimpi untuk membuat sebuah usaha dan menciptakan lapangan kerja.
Tepat pada 27 Maret 2021 dengan modal yang minim, dia mencoba peruntungan dengan menjual kerupuk dan kemplang melalui status WhatsApp.
Upayanya ini direspon cukup baik dan mulai menyebar. Hanya saja, timbul pertanyaan dari pelanggan terkait kesediaan pempek. Pertanyaan ini kemudian menjadi motivasinya untuk berjualan pempek.
“Saya bersama istri saya akhirnya belajar membuat pempek secara ototidak,” katanya.
Berbekal video YouTube, dia mulai belajar membuat pempek. Hanya saja, proses yang dijalaninya ini tidaklah mudah. Satu bulan penuh dia masih belum menemukan rasa dan ukuran yang pas.
Hingga pada 5 September 2021, dia membuka toko pempek di Jalan Rawa Sari, Palembang sembari fokus untuk memperdalam produksi pempek.
Dua tahun toko pempek ini berjalan. Namun, belum menunjukkan perkembangan mengingat persaingan ketat penjualan pempek di Kota Palembang. Bahkan, dirinya mengibaratkan Palembang sebagai zona merah untuk penjualan pempek
Dia mulai memasarkan pempeknya dengan memanfaatkan teknologi dan membuat toko online. Dia dibantu sang kakak memasarkan pempek secara live atau siaran langsung di salah satu e-Commerce. Tanpa ekspekstasi yang besar, beberapa pelanggan mulai memesan pempek secara satuan.
“Penjualan pempek satuan secara digital ini lebih rumit karena harus menghitung jumlah pemesanan. Jadi saya berinisiatif untuk menjualnya dengan sistem paket,” katanya.
Dari titik inilah, bisnis pempek yang digelutinya sejak lima tahun lalu berkembang pesat. Hingga suatu hari, dirinya mendapatkan pesanan secara online, dimana pengirimannya ke Hongkong dan Jerman.
“Awalnya pemesanan lewat marketplace, tapi sekarang konsumen Hongkong dan Jerman memesan lewat telepon,” katanya..
Seiring berkembang bisnis pempeknya, dia pun mulai merekrut tenaga kerja. Tercatat untuk di Palembang sebanyak enam orang dipekerjakan membuat pempek. Sedangkan, di Tangerang sebanyak dua orang guna memudahkan pengiriman.
“Dalam sebulan kami berhasil menjual 130 ribu pempek hampir seluruh wilayah Indonesia termasuk Hongkong dan Jerman,” tutupnya.

UMKM Digital di Sumsel Mulai Tumbuh, Tapi Pemanfaatan Belum Merata
Pempek Abin Anissa menjadi salah satu contoh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Sumatera Selatan yang telah memanfaatkan teknologi digital untuk mengembangkan usahanya.
Pemanfaatan teknologi ini membuka peluang bagi UMKM untuk memperluas jangkauan pasar, termasuk hingga ke luar daerah.
Namun, transformasi digital di kalangan pelaku UMKM Sumsel belum sepenuhnya merata. Sebagian pelaku usaha masih menjalankan aktivitas bisnis secara konvensional dan belum memanfaatkan perdagangan elektronik sebagai bagian dari strategi pemasaran.
Dari data BPS tahun 2024 yang dirilis pada tahun 2025 lalu menunjukkan persentase pelaku usaha yang telah memanfaatkan e-commerce hanya sekitar 37,84 persen. Sedangkan, sisanya 62,16 persen belum memanfaatkan e-commerce.
Meski belum optimal. Berdasarkan data publikasi e-commerce tiga tahun terakhir yaitu tahun 2022 hingga 2024, terlihat tren pertumbuhan usaha e-commerce di Sumatera Selatan setiap tahunnya.
Jumlah usaha e-commerce tahun 2022 tercatat sebanyak 31.348 usaha, lalu pada tahun 2023 tumbuh sebesar 10,80 persen dan meningkat signifikan sebesar 73,86 persen hingga mencapai 60.385 usaha pada tahun 2024.
Berdasarkan data jumlah usaha e-Commerce menurut provinsi Tahun 2024, Sumatera Selatan berada di peringkat ke-7 dari 10 provinsi di Pulau Sumatera dengan jumlah sebanyak 60.385 usaha e-commerce.
Jumlah usaha e-commerce di Sumsel masih terpaut cukup jauh jika dibandingkan dengan provinsi-provinsi urutan teratas di Sumatera, yaitu Sumatera Utara (150.183 usaha) dan Lampung (117.382 usaha).
Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto mengatakan, berdasarkan data sensus ekonomi 2026 per 31 Juli, pihaknya telah mendata sekitar 1,5 juta unit usaha dan rumah tangga usaha di Sumsel.
Di sensus ekonomi 2026 ini, pihaknya juga memotret perkembangan usaha berbasis digital. Dari data sementara atau awal, usaha berbasis digital di Sumsel di tahun 2026 ini mengalami pertumbuhan.
“Kami menemukan usaha-usaha yang dijalankan secara online ternyata jumlahnya cukup banyak di Sumatera Selatan. Ini menjadi informasi baru yang akan melengkapi gambaran struktur ekonomi daerah,” tutupnya.
Meski demikian, Kepala BPS Sumsel mengaku belum dapat membeberkan data sensus ekonomi 2026 karena masih harus melalui proses verifikasi dan supervisi.
“Struktur ekonomi secara utuh baru bisa kita lihat setelah seluruh pendataan selesai,” katanya.

Dukung UMKM Go Digital, Pemkot Palembang Sediakan Akses Internet Gratis
Pengembangan UMKM digital tentunya telah mendapat perhatian dari Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang. Hal ini tertuang dalam Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Daerah Palembang tahun 2025-2029.
Di mana, untuk mendukung ekosistem digital termasuk UMKM digital, Pemkot Palembang menyediakan WiFi gratis di ruang publik dan fasilitas umum.
“Saat ini kami menyediakan 82 titik wifi gratis yang tersebar di ruang publik, fasilitas umum, fasilitas kesehatan dan rumah ibadah,” kata Kepala Diskominfo Palembang, Kemas Haikal saat dihubungi, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, saat ini ketersediaan jaringan di Kota Palembang sudah cukup baik. Bahkan, dari data BPS tahun 2025 di 107 kelurahan dalam 18 kecamatan telah menerima sinyal internet seluler 4G/LTE.
Dengan demikian, dari sisi cakupan administratif, ketersediaan jaringan 4G/LTE telah mencapai 100 persen kelurahan di Kota Palembang.
“Saat ini sudah tidak ada lagi wilayah yang mengalami blank spot atau kualitas internet rendah,” katanya.
Untuk mengukur kualitas internet tersebut, pihaknya melakukan pemantauan kinerja jaringan, terutama dari sisi kecepatan koneksi dan kepuasan pengguna.
Untuk jaringan e-Government, salah satu indikator yang digunakan adalah rata-rata kecepatan jaringan dalam Mbps.
Sementara untuk layanan internet masyarakat, pengukuran dapat dilakukan melalui kecepatan download/upload, latency, packet loss, dan kestabilan koneksi, yang kemudian dapat dipadukan dengan data infrastruktur dan laporan masyarakat.
“Kami juga terus melakukan sosialisasi kepada pelaku UMKM melalui media cetak banner dan spanduk agar memanfaatkan akses internet gratis ini,” singkatnya. (LWM)

