RELUNG.ID- Semangat arek-arek Suroboyo yang berkobar pada pertempuran 10 November 1945 masih membara di dada Amad, veteran perang yang kini berusia 103 tahun. Ia menjadi saksi hidup peristiwa heroik perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato (kini Hotel Majapahit), momen yang memicu pertempuran besar di Surabaya dan menjadi cikal bakal Hari Pahlawan.
Dengan tubuh renta namun sorot mata yang tetap tegas, Amad mengenakan seragam veteran lengkap dengan deretan pin penghargaan di dada. Ia tersenyum saat mengenang hari-hari penuh semangat 80 tahun silam.
“Usia boleh tua, tapi semangat tetap muda,” ujarnya lirih, Minggu (9/11/2025).
Pada September 1945, Amad yang kala itu masih berusia sekitar 20 tahun tinggal di sebuah warung di kawasan Jalan Kedungturi, Surabaya. Ia membantu berjualan nasi sambil mengikuti dinamika kota yang tengah bergolak usai proklamasi kemerdekaan.
Tanggal 19 September 1945, pagi hari, ia mendengar keributan di luar. Sejumlah pemuda berteriak sambil memukul tiang listrik, menyerukan ajakan merobek bendera Belanda yang kembali dikibarkan di atas Hotel Yamato.
“Anak-anak muda di Kedungturi teriak-teriak, ‘Ayo ke Yamato, robek benderanya!’,” kenang Amad.
“Saya jawab, ke situ tinggi, tak carikan tangga dulu. Saya yang pertama kali kepikiran cari tangga.”
Amad lalu mencari tangga di sekitar hotel. Tangga pertama dipasang, namun tak cukup tinggi. Ia berlari lagi sejauh sekitar 10 meter untuk mencari tambahan tangga hingga akhirnya para pemuda bisa naik ke puncak bangunan dan merobek bagian biru bendera Belanda, menyisakan merah putih yang berkibar gagah di langit Surabaya.
“Paling tinggi sekitar enam sampai tujuh meter. Setelah dirobek, terdengar enam kali tembakan dari arah hotel. Arek-arek langsung berpencar,” tutur Amad.
Siang hari setelah kejadian itu, Amad kembali ke Kedungturi lalu berjalan menuju Jalan Tidar. Di sanalah ia bertemu dengan Bung Tomo, tokoh yang kelak menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya.
“Kami berkenalan. Bung Tomo tanya asal saya, lalu mengajak ke gudang senjata tentara Jepang,” kisahnya.
Gudang itu terkunci rapat. Namun dengan batu, mereka berhasil menjebol gembok dan menemukan banyak senjata di dalamnya.
Senjata-senjata tersebut kemudian dibawa menggunakan becak menuju Jalan Mawar, tempat para pemuda berkumpul dan bersiap menghadapi serangan Belanda.
“Jam 10 malam kami kumpul di Jalan Mawar. Banyak pengungsi di sana. Seminggu kemudian pesawat Belanda datang dari timur,” ucap Amad.
Surabaya kemudian dibombardir oleh pesawat-pesawat Belanda dari udara. Ledakan mengguncang berbagai penjuru kota, listrik padam, dan malam Surabaya gelap gulita.
Namun di tengah situasi itu, semangat perlawanan tak surut.
“Bung Tomo teriak tiga kali ‘Allahu Akbar!’ sebelum menyerang. Kami tidak takut mati,” kata Amad dengan nada bergetar.
“Bung Tomo orangnya sederhana, tidak sombong, dan saling menghargai. Karena itu semangat kami besar sekali.”
Amad mengaku tidak pernah melupakan peristiwa tersebut. Setiap 19 September, ia selalu menyempatkan diri datang ke Hotel Yamato sekarang Hotel Majapahit hanya untuk menatap tiang bendera dan mengenang masa-masa perjuangan.
“Hotel itu sudah berubah, tapi semangatnya tidak pernah hilang,” tutupnya.[YKP]

