RELUNG.ID – Memasuki awal Januari 2026, Kabupaten Empat Lawang harus bersiaga penuh.
Cuaca ekstrem yang melanda wilayah ini memicu rentetan bencana alam, mulai dari banjir bandang hingga tanah longsor, yang tersebar di beberapa titik strategis.
Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Empat Lawang, setidaknya telah terjadi lima peristiwa besar yang mengganggu aktivitas masyarakat hanya dalam kurun waktu sepuluh hari pertama di tahun ini.
Bencana dimulai pada Jumat, 2 Januari 2026, saat sebuah pohon besar tumbang di Jalan Poros, Kecamatan Tebing Tinggi. Meski tidak ada korban jiwa, jalur utama tersebut sempat lumpuh total, menghambat mobilitas kendaraan yang melintas.
Puncak ancaman cuaca terjadi pada pekan kedua. Pada Kamis, 8 Januari 2026, intensitas hujan yang sangat tinggi memicu luapan sungai di dua lokasi berbeda:
Kecamatan Ulu Musi, di Desa Air Kelinsar, luapan air merendam pemukiman, mengakibatkan satu rumah terdampak serius dan enam warga terpaksa mengungsi sementara.
Selanjutnya di Kecamatan Tebing Tinggi. Luapan Sungai Berau di kawasan Talang Gunung juga menyasar rumah warga, memaksa masyarakat sekitar untuk berjaga-jaga sepanjang malam.
Puluhan perumahan di Perumnas Graha Emas, Simpang Sekip, Kecamatan Tebing Tinggi juga sempat terendam banjir setinggi pinggang orang dewasa.
Tak berhenti di situ, pada Jumat, 9 Januari 2026, giliran Desa Kembahang Baru di Kecamatan Talang Padang yang dihantam tanah longsor. Material tanah yang labil akibat guyuran hujan lebat mengancam akses jalan dan keselamatan warga.
Di hari yang sama, angin kencang kembali merobohkan pohon di Desa Tanjung Kupang, mempertegas status siaga bagi wilayah Tebing Tinggi.
Plt Kepala BPBD Kabupaten Empat Lawang, Hendra Lezi, mengonfirmasi bahwa seluruh kejadian ini merupakan dampak langsung dari fenomena hidrometeorologi yang dipicu curah hujan ekstrem.
“Kami mengimbau masyarakat yang tinggal di dekat bantaran sungai dan pinggiran tebing untuk selalu siaga. Curah hujan saat ini masih cukup tinggi dan potensi ancaman susulan masih ada,” tegas Hendra Lezi.
Saat ini, personel BPBD terus melakukan pemantauan intensif di titik-titik rawan. Pemerintah daerah meminta warga untuk tidak lengah dan segera melaporkan setiap indikasi bencana melalui jalur darurat agar penanganan dapat dilakukan secara cepat dan tepat. (SLM)

