RELUNG.ID– Kebiasaan perempuan memendam perasaan dan persoalan hidup tanpa tempat bercerita menjadi salah satu alasan lahirnya komunitas Rumah Tumbuh Bidadari di Palembang.
Komunitas yang beranggotakan lebih dari 230 perempuan ini resmi diperkenalkan melalui Grand Launching di Hotel The Zuri Palembang. Kehadirannya diharapkan menjadi ruang bagi perempuan untuk saling menguatkan, bertumbuh, sekaligus mendapatkan pendampingan ketika menghadapi persoalan kehidupan.
Ketua Rumah Tumbuh Bidadari, Desi Windayani mengatakan, komunitas tersebut berangkat dari keresahan terhadap perempuan yang kerap menyimpan persoalan emosional seorang diri.
“Perasaan adalah ujian bagi wanita. Biasanya wanita itu selalu memendam perasaan, tanpa bercerita kepada siapapun. Makanya kami di sini membentuk komunitas Rumah Tumbuh Bidadari,” ujar Desi usai acara.
Menurutnya, komunitas ini dibangun dengan tiga pilar utama, yakni Healing, Growing, dan Shining. Ketiganya merupakan tahapan yang diharapkan dapat membantu perempuan mengenali dan menyelesaikan persoalan diri, mengembangkan potensi, hingga memberikan manfaat bagi orang lain.
“Healing artinya dia harus menyelesaikan dengan dirinya dulu, lalu Growing dia bisa bertumbuh dengan maksimal dan Shining bisa bermanfaat lebih banyak lagi kepada orang lain,” jelasnya.
Sejak terbentuk, Rumah Tumbuh Bidadari telah menghimpun lebih dari 230 anggota yang tersebar di sejumlah daerah, bahkan hingga luar negeri.
Namun, komunitas ini tidak ingin hanya menjadi tempat berkumpul dan berbagi cerita. Ke depan, mereka berencana menghadirkan Rumah Konseling dan Rumah Aman Darurat sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan yang menghadapi persoalan serius dan membutuhkan pertolongan.
Desi mengungkapkan, rencana tersebut muncul setelah pihaknya melihat langsung berbagai persoalan yang dialami perempuan. Jika sebelumnya kegiatan lebih banyak berorientasi pada pencegahan, kini komunitas juga ingin memberikan ruang perlindungan bagi perempuan yang berada dalam situasi darurat.
“Misalnya ada yang benar-benar sudah terpapar dan sangat membutuhkan pertolongan, kami akan berusaha secepatnya. Makanya kami menyiapkan Rumah Aman Darurat. Awalnya kami hanya preventif, tetapi setelah turun langsung ternyata dampaknya sangat luar biasa, ditambah lagi banyak yang mendukung,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Perlindungan Perempuan Rumah Tumbuh Bidadari, Conie Pania Putri mengatakan, komunitas ini juga memiliki perhatian khusus terhadap persoalan kekerasan terhadap perempuan, mulai dari kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), hingga perdagangan orang.
Melalui bidang perlindungan perempuan, pihaknya menyiapkan sejumlah program, seperti edukasi hukum, konsultasi hukum, pendampingan korban, hingga advokasi untuk membantu perempuan memperjuangkan hak-haknya melalui jalur hukum.
“Untuk preventif, misalnya melalui edukasi hukum dan konsultasi hukum. Kami juga memberikan pendampingan dan advokasi secara langsung, termasuk mendampingi korban kekerasan terhadap perempuan sampai ke ranah hukum,” jelas Conie.
Dia berharap perempuan semakin berani berbicara atau speak up ketika mengalami kekerasan maupun pelanggaran hak. Sebab, diam dan memendam persoalan bukanlah jalan keluar ketika keselamatan serta hak-hak mereka terancam.
“Melalui perlindungan perempuan, saya akan memberikan akses perlindungan, pendampingan, edukasi hukum, advokasi, dan kepastian hukum bagi para perempuan, mulai dari pendampingan hingga pemulihan korban,” tutupnya.[YKP]

