RELUNG.ID – Penurunan kualitas udara di Sumatera Selatan mulai menunjukkan pola yang berbeda dibandingkan krisis kabut asap pada 2023.
Jika tiga tahun lalu asap karhutla banyak dikaitkan dengan kiriman dari kawasan OKI, kini udara tidak sehat justru muncul di sejumlah daerah secara bersamaan.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) pada 11 Agustus 2026 mencatat lima daerah di Sumsel berada dalam kategori tidak sehat. Kelima wilayah tersebut yakni Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Musi Rawas, Palembang, Lahat dan Prabumulih.
PALI menjadi daerah dengan angka ISPU tertinggi, yakni 168. Selanjutnya Musi Rawas 131, Palembang 115, Lahat 110 dan Prabumulih 108.
Kategori tidak sehat berada pada rentang ISPU 101-200. Kondisi tersebut menunjukkan kualitas udara sudah dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang sensitif terhadap pencemaran udara.
Kepala Seksi Pengendalian Pencemaran Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Sumsel, Rezawahya, mengatakan penurunan kualitas udara kini tidak lagi terkonsentrasi di satu kawasan.
“Data ISPU kita ada di beberapa daerah, PALI, Prabumulih, Muba, Ogan Ilir, dan Musi Rawas. Saat ini kondisi udara bukan hanya terjadi di OKI atau Palembang saja, tapi merata di daerah lain,” ujar Rezawahya, Rabu (12/8/2026).
Menurut dia, pola sebaran tahun ini berbeda dengan kondisi 2023. Kala itu, asap dari karhutla di OKI banyak terbawa angin dan kemudian memengaruhi daerah lain.
“Kalau di 2023 kebanyakan asap terbawa angin dari OKI, kalau tahun ini tidak terpusat tapi rata,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penurunan kualitas udara terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla.
Rezawahya mengatakan bertambahnya titik api dari hari ke hari, minimnya hujan dalam beberapa pekan terakhir, serta kebakaran yang terjadi di lahan gambut dan mineral dapat membuat kualitas udara semakin tertekan.
“Kalau dilihat dari jumlah titik api yang terus bertambah tiap hari dan diikuti oleh hujan yang belum turun sudah hampir tiga minggu lebih, dan juga karhutlah sudah ada yang di lahan gambut dan mineral, maka kemungkinan kualitas udara akan menurun secara perlahan,” jelasnya.
Artinya, persoalan kualitas udara tidak hanya bergantung pada kondisi di satu kabupaten. Ketika titik kebakaran muncul secara tersebar, asap yang dihasilkan juga berpotensi memengaruhi lebih banyak wilayah.
“Kondisi tersebut juga membuat angka ISPU dapat berubah sepanjang hari. Pergerakan angin menjadi salah satu faktor yang menentukan kepekatan kabut asap yang dirasakan masyarakat,”kata dia.
Rezawahya menjelaskan kabut asap umumnya lebih terasa pada pagi hari. Kondisi tersebut kemudian berangsur berkurang ketika angin mulai bergerak pada pagi menjelang siang.
“Biasanya memasuki pukul 8-10 angin mulai bergerak, sehingga ada pengurangan kepekatan kabut asap. Itu pengaruh arah mata angin saja,” tutupnya. (THQ)

