RELUNG.ID – Tragedi kecelakaan maut yang melibatkan bus Antar Lintas Sumatera (ALS) dan mobil tangki BBM di Jalinsum, Kecamatan Karang Jaya, Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara), Rabu (6/5/2026), menyisakan duka mendalam.
Di balik peristiwa yang menewaskan 16 orang tersebut, terdapat kisah pilu dari para korban selamat yang berhasil lolos dari kobaran api.
Salah satunya adalah Ngadiono Bin Wage (44), warga Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Bersama istrinya, Jumiatun Binti Surip (34), ia menjadi saksi hidup bagaimana maut begitu dekat saat bus yang mereka tumpangi terbakar hebat usai tabrakan.
Ngadiono mengungkapkan, sejak awal dirinya sudah merasakan firasat tidak enak ketika hendak menaiki bus ALS tujuan Medan tersebut. Kondisi kendaraan yang dinilai tidak layak jalan membuatnya ragu untuk berangkat.
“Dari awal kami sudah merasa tidak enak. Saya lihat kondisi busnya seperti tidak layak,” ujar Ngadiono dengan suara bergetar saat ditemui usai kejadian.
Namun, keadaan memaksanya tetap melanjutkan perjalanan. Tiket yang telah dibeli tidak bisa dibatalkan, sementara kondisi keuangan tidak memungkinkan untuk membeli tiket baru.
“Karena tiket tidak bisa dikembalikan dan uang sudah tidak ada, kami terpaksa berangkat,” katanya.
Sepanjang perjalanan, firasat itu semakin terasa. Ngadiono menyebut bus beberapa kali mengalami kendala teknis, mulai dari kekeringan air radiator hingga kebocoran minyak yang berceceran di jalan.
Puncak kejadian terjadi saat bus melintas di wilayah Karang Jaya. Tiba-tiba terdengar suara benturan keras. Dalam hitungan detik, api langsung membesar dan melahap bagian kendaraan.
“Saya dengar benturan keras, lalu api langsung besar. Semua panik,” ungkapnya.
Dalam kondisi panik dan penuh asap, Ngadiono bersama istrinya berusaha menyelamatkan diri dengan keluar melalui jendela bus. Upaya itu berhasil, meski mereka harus mengalami luka bakar.
Tak lama kemudian, satu penumpang lainnya, M Tahrul Hubaidi (31), juga berhasil menyusul keluar dari bus yang sudah dilalap api.
“Kami keluar lewat jendela. Setelah itu baru ada satu penumpang lain yang ikut keluar,” katanya.
Setelah berhasil menyelamatkan diri, mereka hanya bisa menyaksikan kobaran api semakin membesar. Bahkan terdengar ledakan dari dalam kendaraan, diduga akibat bahan bakar yang terbakar.
“Kami hanya bisa melihat. Api semakin besar, ada suara ledakan. Penumpang lain tidak sempat keluar,” ujarnya lirih.
Akibat kejadian tersebut, Ngadiono mengalami luka bakar di bagian wajah dan tangan. Sementara istrinya, Jumiatun, serta M Tahrul Hubaidi mengalami luka bakar serius dan kini menjalani perawatan intensif di ruang ICU.
Diketahui, kecelakaan maut ini melibatkan bus ALS yang melaju dari arah Lubuklinggau menuju Jambi dengan mobil tangki BBM dari arah berlawanan. Diduga, bus masuk ke jalur lawan arah sehingga tabrakan tidak dapat dihindari.
Benturan keras membuat kedua kendaraan langsung terbakar. Api dengan cepat membesar karena mobil tangki mengangkut bahan bakar minyak.
Sebanyak 16 orang dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa tersebut, terdiri dari 14 penumpang bus dan dua orang dari mobil tangki. Sementara empat orang lainnya selamat, termasuk tiga korban dengan luka bakar serius. (LTM)

