RELUNG.ID-Dalam kurun waktu dua hari berturut-turut, kecelakaan yang melibatkan kereta api terjadi di dua lokasi berbeda dan menimbulkan dampak yang signifikan.
Peristiwa pertama terjadi pada Senin (27/4/2026) malam di Bekasi Timur, melibatkan Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL. Insiden tersebut mengakibatkan belasan orang meninggal dunia serta puluhan lainnya mengalami luka-luka.
Sehari berselang, kecelakaan kembali terjadi, kali ini melibatkan Kereta Api (KA) 408 Commuter Line Dhoho dengan sebuah truk di perlintasan sebidang JPL 190 Km 120+448, antara Stasiun Blitar dan Stasiun Garum, Selasa (28/4/2026) sekitar pukul 21.35 WIB.
Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian kedua ini. Namun, tabrakan menyebabkan kerusakan cukup parah pada truk maupun lokomotif kereta.
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menjelaskan bahwa sebelum kejadian, sistem peringatan dini di lokasi berfungsi normal. Sirene telah berbunyi sebagai tanda kereta akan melintas dan petugas juga sudah bersiap menutup palang pintu.
“Namun, truk tersebut tetap melintas. Saat berada di tengah perlintasan, kendaraan tiba-tiba mengalami mogok,” ujarnya.
Akibatnya, truk terhenti dan menghalangi jalur rel. Petugas penjaga perlintasan sempat memberikan Semboyan 3 atau isyarat darurat untuk menghentikan kereta. Namun, jarak yang sudah terlalu dekat membuat masinis tidak dapat menghentikan laju kereta tepat waktu, sehingga tabrakan pun tidak terhindarkan.
Benturan keras menyebabkan bagian depan truk rusak parah. Sementara itu, lokomotif mengalami kerusakan pada komponen penting, termasuk patahnya plug kran yang membuat kereta harus berhenti untuk pemeriksaan.
Meski demikian, masinis dan asistennya dilaporkan selamat.
Tim dari KAI Daop 7 langsung melakukan evakuasi. Truk berhasil dipindahkan dari jalur sekitar pukul 22.00 WIB. Setelah perbaikan sementara, lokomotif kemudian dijalankan mundur menuju Stasiun Blitar dengan kecepatan terbatas sekitar 5 km/jam di bawah pengawalan petugas.
Menanggapi kejadian ini, pihak KAI kembali mengingatkan pentingnya kedisiplinan pengguna jalan saat melintasi perlintasan sebidang. Tohari menegaskan bahwa palang pintu hanyalah alat bantu, bukan pengaman utama.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk selalu mematuhi rambu lalu lintas, memastikan kondisi kendaraan dalam keadaan baik, tidak berhenti di atas rel, serta selalu mendahulukan perjalanan kereta api.
“KAI berkomitmen menjaga keselamatan perjalanan kereta api, namun diperlukan kedisiplinan seluruh pengguna jalan. Keselamatan adalah tanggung jawab bersama,” tutupnya.[YKP]

