RELUNG.ID- Fenomena erupsi enam gunung api di Indonesia yang terjadi dalam waktu berdekatan menjadi sorotan. Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), Ulta Levenia Nababan, bahkan mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik rangkaian aktivitas vulkanik tersebut.
Ulta menyinggung proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) ketika membahas fenomena erupsi sejumlah gunung api tersebut.
Dalam pernyataannya, Ulta mengaku memiliki kecurigaan bahwa rangkaian peristiwa yang terjadi hampir bersamaan itu tidak sepenuhnya merupakan kebetulan.
“Kalau saya mungkin sekitar 73,5 persen, saya merasa pasti ada yang mengorkestrasi semua ini,” ujar Ulta.
Ia kemudian mengaitkan pemikirannya dengan sejumlah peristiwa geopolitik yang pernah terjadi di beberapa negara, termasuk Turki dan China.
Menurut Ulta, berbagai kejadian tersebut membuat dirinya mempertanyakan kemungkinan adanya keterkaitan antara dinamika geopolitik dengan fenomena alam yang muncul setelahnya.
Ulta juga mengungkapkan bahwa dirinya sempat berdiskusi dengan sejumlah pihak setelah melakukan perjalanan ke kawasan ASEAN, Papua hingga Kalimantan.
Dari berbagai informasi yang diperolehnya, ia mengaku semakin mempertanyakan rangkaian kejadian yang menurutnya terlihat tidak biasa.
Ketika menyampaikan pandangannya, Ulta menyinggung HAARP yang selama ini menjadi objek berbagai spekulasi mengenai kemampuan memengaruhi kondisi atmosfer dan cuaca.
HAARP merupakan proyek penelitian yang mempelajari ionosfer menggunakan gelombang radio berfrekuensi tinggi.
Namun, proyek tersebut juga kerap dikaitkan dengan berbagai teori konspirasi, termasuk tudingan dapat memengaruhi cuaca hingga memicu bencana alam.
Ulta mengakui pernyataannya tersebut berpotensi menimbulkan kontroversi.
“Saya juga kan kemarin melihat film ya, seperti itu, ini mungkin saya dibilang gila ya nanti,” katanya sambil tersenyum.
Pernyataan Ulta itu kemudian menjadi perhatian karena disampaikan ketika Indonesia tengah menghadapi aktivitas erupsi sejumlah gunung api dalam periode yang berdekatan.
Meski demikian, dugaan adanya keterlibatan HAARP maupun pihak asing dalam memicu erupsi gunung api belum dapat dinyatakan sebagai fakta.
Erupsi gunung api secara ilmiah berkaitan dengan aktivitas vulkanik dan dinamika magma di bawah permukaan bumi. Perubahan tekanan dan pergerakan magma di dalam sistem gunung api dapat memicu berbagai aktivitas hingga erupsi.
Karena itu, dugaan bahwa erupsi sejumlah gunung api sengaja diorkestrasi atau dipicu oleh teknologi tertentu membutuhkan bukti ilmiah yang dapat diverifikasi.
Hingga kini, pernyataan mengenai kemungkinan peran HAARP dalam rangkaian erupsi tersebut masih sebatas dugaan dan belum didukung bukti ilmiah yang membuktikan adanya hubungan sebab-akibat.
Pernyataan Ulta pun menjadi sorotan publik di tengah meningkatnya perhatian terhadap aktivitas vulkanik sejumlah gunung api di Indonesia.[YKP]

