RELUNG.ID- Petani karet di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menyambut gembira kenaikan harga karet yang tercatat sejak 3 Februari 2025.
Harga karet mencapai Rp413 per kilogram, dengan harga Rp 32.330 per kilogram untuk karet kadar kering (KKK) 100 persen. Kenaikan harga ini membawa dampak positif bagi pendapatan petani karet.
“Petani tentu senang, karena secara otomatis pendapatan mereka meningkat dengan harga karet yang naik. Ini menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh petani di OKI,”kata Kepala Bidang Penyuluhan Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten OKI, M Zulkarnain, Selasa (4/2/2025).
Zulkarnain menambahkan, harga karet dengan kadar kering 60 persen kini berada di angka Rp 19.398 per kilogram, sementara untuk kadar kering 50 persen, harga karet dipatok Rp 16.165 per kilogram.
Harga karet kadar kering 70 persen lebih tinggi, yakni Rp22.631 per kilogram. Meskipun harga saat ini meningkat, ia mencatat bahwa harga karet di akhir Januari 2024 sempat menembus angka Rp 31.684 per kilogram untuk KKK 100 persen.
Namun, Zulkarnain juga mencatat bahwa kenaikan harga karet ini tidak diimbangi dengan peningkatan hasil produksi. Hal tersebut disebabkan oleh curah hujan yang cukup tinggi di Kabupaten OKI, yang mempengaruhi proses penyadapan karet.
“Curah hujan yang tinggi sangat berpengaruh pada produksi karet dan menyulitkan petani untuk menyadap di musim hujan,” ungkapnya.
Untuk mengatasi hal tersebut, petani karet di OKI merubah jadwal penyadapan. Fais, seorang petani karet asal Desa Bumi Harjo, Kecamatan Lempuing, menjelaskan,
“Kami jadwalkan penjualan karet setiap dua minggu sekali. Meskipun ada kesulitan akibat hujan, kami tetap menyadap karet, meskipun harus menunggu pohon karet kering terlebih dahulu,”ujar Fais.
“Dengan harga karet yang tinggi, uang yang kami peroleh cukup besar. Ini jelas menambah pendapatan dan memberikan kesejahteraan bagi kami sebagai petani,”katanya.
Sementara itu, Zulkarnain juga mengingatkan para petani untuk menjual karet mereka ke Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB) yang tersebar di beberapa kecamatan, agar mereka tidak tergantung pada tengkulak.
“Petani kami arahkan untuk menjual karet ke UPPB agar mereka mendapatkan harga yang lebih menguntungkan dan tidak dirugikan,” jelas Zulkarnain.[HWJ]

