RELUNG.ID – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Di tengah musim kemarau yang masih berlangsung, tim pengendalian kebakaran justru menemukan pola kemunculan api yang dinilai tidak biasa.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan kebakaran yang terjadi sejak Juni 2026 cukup sering muncul pada akhir pekan. Waktu kemunculan api juga cenderung berulang, yakni pada pagi dan sore hari.
Temuan tersebut menjadi perhatian karena pola kebakaran muncul secara berulang di sejumlah lokasi.
“Kebakaran di Sumsel ini kejadiannya banyak terjadi sejak hari Jumat sampai Minggu. Jamnya pun mirip-mirip. Ini yang agak aneh pola kejadiannya,” ujar Ferdian, Senin (14/9/2026).
Pola tersebut kembali terlihat dalam penanganan karhutla di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) Palembang-Indralaya, Kabupaten Ogan Ilir.
Tim Manggala Agni sebelumnya berjibaku memadamkan kebakaran yang muncul sejak sore hingga malam hari. Api berhasil ditangani sampai tuntas pada dini hari.
Namun, beberapa jam kemudian, titik api kembali ditemukan di sekitar lokasi yang sebelumnya telah dipadamkan.
“Kemarin itu serentak dari sore sampai tengah malam, tuntas tengah malam tadi. Ini tadi jam 6 kejadian muncul lagi banyak barengan. Kayak ngerjain terus,” kata Ferdian.
Menurut Ferdian, pola serupa banyak ditemukan pada lokasi yang berada di sekitar permukiman, lahan tidur, serta kawasan yang berdekatan dengan fasilitas umum seperti jalan tol dan jalan raya.
Meski terdapat kecurigaan terhadap kemungkinan adanya unsur kesengajaan, pihaknya belum dapat memastikan penyebab maupun motif di balik munculnya api secara berulang tersebut.
“Entah motifnya apa lagi, campur-campur, curiga bener ini apa motifnya,” ujarnya.
Di sisi lain, ancaman karhutla di Sumsel masih cukup besar. Kondisi ini dipengaruhi musim kemarau yang diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa waktu ke depan.
Ferdian mengatakan kondisi tersebut membuat upaya pencegahan dan pemadaman harus terus diperkuat. Apalagi masih terdapat sejumlah kawasan yang selama ini menjadi langganan kebakaran setiap musim kemarau, tetapi belum terbakar pada tahun ini.
“Kejadian kebakaran masih masif, apalagi kondisi kemarau masih dua bulan lagi,” katanya.
Ia menambahkan, wilayah yang sudah terbakar saat ini memang mencakup sejumlah kawasan yang sebelumnya dikenal rawan. Namun, masih banyak areal lain yang belum tersentuh api dan berpotensi menjadi titik kebakaran baru.
Data terbaru mengenai luasan lahan yang telah terbakar maupun kawasan rawan yang belum terbakar masih dalam proses pemutakhiran.
“Yang terbakar sekarang memang langganan, tapi masih banyak lagi yang belum terbakar. Ini jadi perhatian bersama karena musim kemarau belum berakhir,” pungkas dia. (THQ)

