RELUNG.ID – Kekeringan yang melanda sejumlah wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) belum mengganggu tren produksi padi.
Hingga Agustus 2026, produksi padi Sumsel justru tercatat meningkat sekitar 5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Bambang Pramono mengatakan, peningkatan tersebut berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) periode Januari-Agustus 2026 dibandingkan Januari-Agustus 2025.
“Alhamdulillah, dari hasil rilis BPS, Januari sampai Agustus 2026 dibanding Januari sampai Agustus 2025, produksi kita meningkat 5 persen,” kata Bambang saat ditemui di Palembang.
Meski produksi masih tumbuh, pemerintah tidak ingin capaian tersebut membuat kewaspadaan terhadap dampak kemarau menurun. Apalagi, kekeringan diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober mendatang.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah memperkuat pasokan air ke lahan pertanian menggunakan pompa. Kelompok tani yang mulai mengalami kekurangan air diminta segera melapor agar bantuan dapat diberikan sebelum tanaman mengalami kerusakan.
“Yang kita lakukan pertama, mengamankan pertanaman yang ada di lahan dengan mempersiapkan pompa pendampingan, jangan sampai kekeringan,” ujarnya.
Di tengah ancaman kekeringan, karakteristik lahan Sumsel justru menjadi salah satu modal untuk menjaga produksi pertanian. Sekitar 73 persen wilayah Sumsel merupakan lahan rawa.
Menurut Bambang, sebagian lahan rawa yang selama berbulan-bulan tergenang dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam ketika muka air mulai surut.
“Sumatera Selatan 73 persen lahannya itu ada lahan rawa. Ini berkah bagi kita. Selama ini lahan itu tergenang sembilan bulan bahkan lebih, tetapi ketika airnya turun bisa ditanami,” jelasnya.
Pemanfaatan lahan rawa menjadi penting karena pemerintah harus menjaga agar produksi pangan tetap berjalan ketika sebagian lahan pertanian mulai menghadapi keterbatasan air.
Namun, surutnya air rawa juga membawa persoalan lain. Lahan yang mengering dapat menjadi lebih rentan terbakar dan berpotensi menambah ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Karena itu, pemerintah mendorong lahan rawa yang berpotensi terbakar untuk dialihkan menjadi lahan pertanian melalui program cetak sawah.
“Lahan-lahan rawa yang berpotensi menjadi karhutla ini harus kita jadikan sawah. Dengan dukungan pemerintah pusat melalui cetak sawah, kita usulkan agar tidak terjadi kebakaran hutan maupun rawa yang menyebabkan asap dan meluas ke lahan lain,” katanya.
Strategi menghadapi kondisi rawa yang berbeda juga dilakukan melalui pengembangan teknologi padi apung. Program tersebut telah dikembangkan Dinas Pertanian Sumsel selama dua tahun melalui kerja sama dengan Bank Indonesia, salah satunya di kawasan Jakabering.
Teknologi ini memungkinkan lahan yang masih tergenang dimanfaatkan untuk budidaya padi, termasuk di kawasan rawa, kolam, maupun perairan lainnya.
Namun, produktivitas padi apung saat ini masih lebih rendah dibandingkan padi yang ditanam di sawah konvensional.
“Produktivitas Sumatera Selatan sekarang sekitar 5,8 ton GKG per hektare. Kalau padi apung masih berkisar 4 sampai 4,2 ton,” ungkap Bambang.
Meski demikian, pengembangan padi apung masih memiliki ruang untuk ditingkatkan. Sumsel tercatat memiliki sekitar 115 ribu hektare lahan lebak tengahan yang berpotensi dimanfaatkan untuk budidaya padi saat kondisi lahan masih tergenang.
Bambang mengatakan langkah antisipasi kekeringan sebenarnya telah dilakukan sejak awal tahun. Gubernur Sumsel juga telah mengeluarkan surat keputusan terkait gerakan tanam sebagai bagian dari upaya menghadapi dampak El Nino.
Dengan kondisi kemarau yang masih berlangsung, pengawalan terhadap tanaman padi terus dilakukan. Pemerintah meminta petani tidak menunggu kondisi lahan dan tanaman memburuk sebelum meminta bantuan.
“Kelompok tani yang kekeringan dan ada tanaman padi di lahannya segera melapor kepada kita untuk segera kita antisipasi. Jangan sampai kekeringan,” pungkasnya. (THQ)

