RELUNG.ID – Sebuah unggahan @rumah_teduh_sahabat_iin sontak menuai sorotan di media sosial atas unggahan yang memilukan pada, Jumat (15/8/2025) lalu
Unggahan tersebut mengisahkan seorang bocah berusia tiga tahun di Sukabumi yang meninggal dunia dengan tubuh yang dipenuhi dan digerogoti oleh cacing.
Bocah tersebut berinisial RA yang merupakan anak dari U (32) dan E. Mereka tinggal di sebuah perkampungan di Desa Cianaga, Kecamatan Kebandungan, Kabupaten Sukabumi.
“Kedua orang tuanya ini mengalami sakit diduga mengalami keterbelakangan mental sehingga kesulitan memberikan pengasuhan,” kata Kepala Desa Cianaga, Wardi Sutandi, Selasa kemarin (19/8/2025).
Dia menceritakan, RA sehari-harinya kerap bermain di bawah kolong rumahnya bersama ayam. Kemudian, bocah tiga tahun ini mengalami demam dan didiagnosis menderita penyakit paru-paru.
“Tapi terkendala biaya karena keluarga tidak memiliki kartu keluarga (KK) dan BPJS,” terangnya.
RA akhirnya mendapatkan bantuan dari komunitas filantropi Rumah Teduh. Namun, penyakitnya semakin parah hingga akhirnya langsung dijemput memakai ambulans.
RA sempat dirawat sekitar sembilan hari dengan bantuan filantropi tersebut. Namun, pada 22 Juli 2025 malam, RA dinyatakan meninggal dunia.
“(RA meninggal) saya kumpul, dan mayat tersebut datang. Dikuburkan malam hari,” ucap Wardi.
Sementara itu, berdasarkan unggahan @rumah_teduh_sahabat_iin, Iin menarasikan, kasus RA menjadi cerminan potret kondisi penanganan kesehatan di negeri ini. Mulai dari evakuasi pada Minggu 13 Juli 2025 hingga dilarikan ke IGD RSUD di Kota Sukabumi.
“Kami baru menyadari ternyata RA tidak memiliki kartu Identitas yang otomatis tidak memiliki BPJS baik yang dibantu pemerintah apalagi yang mandiri,” terangnya.
Mereka pun terpaksa menjaminkan RA agar diberikan kesempatan mengurus 3×24 jam untuk identitas dan BPJS nya. Dengan catatan, bila lewat dari jadwal tersebut maka adminitasi dicatat pembayaran tunai.
“Disini para relawan diuji, mereka dioper dari satu dinas ke dinas lain. Kemudian, dari Dinsos ke Dinsos lain, serta dari Dinkes ke Dinkes lainnya,” katanya.
Mereka pun disarankan untuk pindah ke rumah sakit yang lebih kecil di Jampang. Namun, mereka memberitahukan kondisi memprihatinkan RA saat itu, bagaimana cacing gelang sepanjang 15 cm ditarik keluar dari hidungnya dalam keadaan hidup, juga keluar dari mulut hingga anusnya.
Tak hanya itu, hasil CT Scan dan Rontgen RA juga memperlihatkan ratusan telur cacing sudah bersembayam di tubuh dan kepala bocah tiga tahun ini.
“Bagaimana kami harus mengikuti saran kabupaten untuk memindahkan RA ke rumah sakit yang lebih kecil di Jampang ketika kondisinya kritis seperti saat ini. Bahkan RSUD Kota Sukabumi kewalahan melihat kasus tersebut,” ujarnya.
Mereka pun akhirnya membayar tagihan tersebut secara tunai sebesar Rp11 juta demi untuk mengobati RA. Tagihan ini tentunya akan terus bertambah sampai RA sembuh.
Sedih, dan kecewa dirasakan relawan melihat sistem saat ini. Ingin rasanya ikut menyerah dan membiarkannya saja. Namun, karena ada sedikit iman, mereka tetap bertahan
“Kami tak tega melihat kondisinya yang lemas karena nutrisi dan oksigen habis oleh ratusan cacing ditubuhnya,” terangnya.
Tepat pada 22 Juli RA pun akhirnya meninggal dunia. Ketika Raya meninggal tagihan rumah sakit menunjukkan angka Rp23 juta. Meski demikian, mereka tidak menyesal membantu RA.
“Semoga Allah ampuni negeri ini, para pemimpin negeri ini, dan mengampuni kami saudara seimannya yg sangat terlambat membantunya,” tutupnya. (LWM)

