RELUNG.ID – Orang tua almarhum Vidi Aldiano, Harry Kiss dan Besbarini, tak pernah absen berziarah ke makam putra mereka di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, Selasa (24/3/2026).
Meski telah lebih dari dua pekan sejak kepergiannya, makam Vidi masih terus dibanjiri peziarah, baik dari kalangan keluarga, sahabat, maupun penggemar. Pusara pelantun lagu Status Palsu itu hampir setiap hari dipenuhi kelopak bunga warna-warni sebagai bentuk cinta dan penghormatan.
Vidi Aldiano, yang memiliki nama asli Oxavia Aldiano, meninggal dunia pada 7 Maret 2026 di usia 35 tahun setelah berjuang melawan kanker ginjal selama tujuh tahun. Ia dimakamkan di TPU Tanah Kusir pada 8 Maret 2026.
Namun, keluarga sempat dibuat bingung karena bunga yang tampak banyak di pagi hari sering kali sudah hilang saat sore.
Harry Kiss kemudian mengungkapkan bahwa kondisi tersebut ternyata berkaitan dengan proses perawatan makam yang masih baru ditanami rumput.
“Kalau bunga ditabur di atas makam yang masih baru, rumputnya tidak bisa tumbuh. Jadi setiap sore petugas membersihkan bunga,” ujarnya.
Menurutnya, jumlah bunga yang dibersihkan bahkan bisa mencapai dua karung setiap harinya. Hal itu membuat tampilan makam kerap berubah dalam waktu singkat.
“Nanti kalau rumputnya sudah tumbuh, baru boleh ditaburi bunga lagi,” tambahnya.
Selain bunga dari para peziarah, keluarga juga sempat dikejutkan dengan keberadaan anggrek putih di makam Vidi tanpa identitas pengirim.
Harry Kiss mengaku tidak mengetahui siapa yang mengirim bunga tersebut, karena tidak disertai kartu ucapan.
“Itu tiba-tiba ada di makam, tapi tidak ada nama pengirimnya,” katanya.
Meski begitu, anggrek putih memiliki makna khusus bagi keluarga. Besbarini diketahui gemar menanam bunga tersebut di rumah. Namun, Harry memastikan bunga yang ada di makam bukan berasal dari rumah mereka.
Hal ini justru menambah rasa penasaran keluarga terhadap sosok pengirimnya.
Kepergian Vidi Aldiano juga meninggalkan duka mendalam, terutama saat momen Lebaran tahun ini. Harry Kiss mengungkapkan adanya tradisi keluarga yang kini terasa berbeda.
Menurutnya, momen foto bersama yang selalu dilakukan setiap Lebaran kini terasa kurang lengkap.
“Biasanya kami selalu foto bersama dengan berbagai konsep. Sekarang terasa ada yang kurang,” ujarnya.
Meski demikian, keluarga berusaha tetap kuat dengan rutin berziarah ke makam Vidi setiap hari. Selain itu, mereka juga mengunjungi makam orang tua yang lokasinya berdekatan.
“Kami selalu menyempatkan ziarah, bukan hanya ke Vidi, tapi juga ke orang tua kami,” tutup Harry.
Di tengah duka yang masih terasa, kehadiran para peziarah dan bunga-bunga yang terus berdatangan menjadi bukti bahwa kenangan terhadap Vidi Aldiano tetap hidup di hati banyak orang.[YKP]

