RELUNG.ID – Dampak musim kemarau panjang yang tengah melanda wilayah Sumatera Selatan mulai memicu ancaman serius terhadap lingkungan dan ekonomi warga.
Terbaru, sekitar 5 hektare lahan perkebunan kelapa sawit milik warga di Desa Mekar Jaya (3A), Kecamatan Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang, dilaporkan hangus terbakar belum lama ini.
Kondisi cuaca yang panas ekstrem disertai minimnya curah hujan membuat vegetasi di area perkebunan menjadi sangat kering dan sangat rentan memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Mendapati laporan adanya insiden kebakaran yang mendekati kawasan produktif warga, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Empat Lawang bergerak cepat.
Kabid Kedaruratan BPBD Kabupaten Empat Lawang, Fero Ananta, mengungkapkan bahwa pihaknya langsung menerjunkan tim gabungan ke lokasi kejadian sesaat setelah menerima informasi dari masyarakat.
“Begitu laporan masuk, kami langsung menerjunkan sebanyak 5 personel Pusdalops PB ke lokasi kejadian untuk bahu-membahu memadamkan api bersama dengan pemilik lahan,” jelas Fero saat dikonfirmasi.
Berkat kerja keras petugas yang berjibaku di tengah teriknya cuaca dan kepulan asap, api akhirnya berhasil dikendalikan sehingga tidak meluas ke area permukiman atau perkebunan warga lainnya.
Berdasarkan hasil pendataan sementara di lapangan, total luas lahan kelapa sawit yang terdampak dan mengalami kerusakan akibat musibah ini mencapai kurang lebih 5 hektare.
Menyikapi insiden ini, pihak BPBD Empat Lawang tidak henti-hentinya mengingatkan seluruh lapisan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan yang tinggi. Musim kemarau yang masih berlangsung menuntut kehati-hatian ekstra dari setiap warga, khususnya para pemilik lahan perkebunan.
Fero Ananta secara khusus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu percikan api, seperti membuka lahan dengan cara membakar ataupun sembarangan membuang puntung rokok di area yang kering.
Pemerintah Kabupaten Empat Lawang bersama instansi terkait kini terus memantau titik-titik rawan karhutla guna mengantisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. (SLM)

