RELUNG.ID – Sumatera Selatan (Sumsel) menyatakan siap mendukung target pemerintah pusat dalam memperkuat swasembada daging nasional.
Upaya tersebut akan diarahkan pada penambahan populasi ternak melalui program breeding atau pembiakan, bukan sekadar penggemukan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel, Ruzuan Efendi, mengatakan kebutuhan daging di Sumsel selama ini relatif dapat dipenuhi.
Namun, tantangannya adalah ketersediaan populasi ternak untuk memenuhi kebutuhan secara berkelanjutan.
Menurutnya, pola penggemukan yang selama ini berjalan masih banyak bergantung pada pasokan sapi dari luar daerah maupun ternak impor.
Lampung, misalnya, menjadi salah satu daerah dengan populasi ternak besar yang memasok sapi untuk kebutuhan penggemukan sebelum dipasarkan ke sejumlah wilayah, termasuk Sumsel.
“Kalau dalam arti penggemukan kita ingin ternak kita berasal dari kita, bukan impor. Bisakah kita menghasilkan itu dengan populasi? Kita belum bisa saat ini, semuanya masih harus didatangkan,” ujar Ruzuan, Selasa (18/8/2026).
Karena itu, Ruzun menilai penguatan sektor peternakan tidak cukup hanya dengan menambah jumlah sapi siap potong.
Pemerintah perlu memperbanyak indukan dan menghasilkan bibit ternak secara mandiri sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah dapat dikurangi.
Ruzuan menjelaskan peningkatan populasi dapat dilakukan melalui berbagai metode pembiakan, mulai dari perkawinan alami, inseminasi buatan hingga teknologi transfer embrio.
Menurutnya, penggunaan bibit unggul melalui program breeding akan menjadi salah satu kunci jika Indonesia ingin benar-benar mencapai swasembada daging dalam beberapa tahun ke depan.
“Apa yang disampaikan Pak Prabowo itu untuk lima tahun ke depan, dengan penambahan populasi dalam arti breeding, bukan penggemukan,” katanya.
Ia optimistis Sumsel memiliki potensi untuk mengambil bagian dalam program tersebut. Sejumlah daerah dinilai memiliki karakteristik yang mendukung pengembangan peternakan, seperti Ogan Komering Ilir (OKI), OKU Timur, Banyuasin, Lubuklinggau dan Muara Enim.
“Indonesia bisa, Sumsel bisa. Karena Sumsel salah satu provinsi yang bisa mendukung program swasembada daging,” ujarnya.
Pengembangan sentra peternakan di daerah-daerah potensial tersebut diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Sumsel, tetapi juga membangun sumber populasi ternak yang dapat menopang kebutuhan daerah lain.
Selain sapi, Sumsel juga memiliki potensi besar pada komoditas kerbau rawa. Salah satu kawasan yang terus dikembangkan berada di Banyuasin, terutama wilayah Pampangan dan Rambutan.
Dirinya mengatakan ekosistem kerbau rawa di wilayah tersebut masih cukup baik dan populasinya terus berkembang.
“Kita ada ekosistem kerbau rawa di Banyuasin yang berkembang, apalagi di Pampangan dan Rambutan. Secara populasi terus bertambah,” katanya.
Potensi tersebut bahkan akan diarahkan untuk meningkatkan produksi susu kerbau. DKPP Sumsel berencana melakukan pengembangan secara bertahap agar produktivitas ternak tidak hanya mengandalkan daging.
Saat ini, produksi susu kerbau disebut masih sekitar satu liter per ekor per hari. Angka tersebut dinilai masih dapat ditingkatkan melalui perbaikan bibit, pemeliharaan dan pola produksi.
“Kita berharap bisa lima liter sampai 15 liter. Produksi susu kerbau ini akan kita kembangkan secara perlahan,” tutupnya. (LWM)

