RELUNG.ID – Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, KH Abdussalam Shohib atau Gus Salam, menggelar silaturahmi bersama jajaran Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Sumatera Selatan di Hotel Santika Premiere Palembang, Rabu (15/7/2026) malam.
Pertemuan bertajuk “Satu Tekad Bumi Sriwijaya” tersebut dihadiri jajaran syuriyah dan tanfidziyah PCNU dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan serta sejumlah tokoh senior Nahdlatul Ulama.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian silaturahmi Gus Salam ke berbagai daerah menjelang Muktamar NU, di mana Sumatera Selatan merupakan wilayah ke-23 yang dikunjunginya sebagai bakal calon Ketua Umum PBNU periode 2026–2031.
Dalam sambutannya, Gus Salam menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat keluarga besar NU Sumsel. Ia menegaskan kunjungannya bukan semata untuk menyampaikan visi dan gagasan, tetapi juga mendengarkan masukan, nasihat, serta pandangan para kiai daerah sebagai bekal menghadapi Muktamar mendatang.
Ia mengungkapkan, langkah yang ditempuhnya berangkat dari amanah para guru. Karena itu, sebelum melakukan silaturahmi ke berbagai wilayah, ia terlebih dahulu meminta restu kepada para ulama dan masyayikh, di antaranya KH Anwar Manshur, KH Kafabihi Mahrus, KH Zamzami, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar, KH Ma’ruf Amin, hingga KH Said Aqil Siroj.
“Kami sangat menghormati hierarki struktural dan kewilayahan. Setiap masuk ke suatu daerah, kami selalu meminta izin dan mohon arahan dari pengurus wilayah setempat,” ujar Gus Salam.
Ia juga menyampaikan telah menjalin komunikasi dengan sejumlah tokoh penting di lingkungan PBNU, termasuk Sekretaris Jenderal PBNU Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), serta Menteri Agama Prof. Nasaruddin Umar.
Menurut Gus Salam, terdapat dua amanah utama dari para gurunya yang menjadi pijakan perjuangannya. Pertama, menjaga persatuan dan membangun rekonsiliasi di internal Nahdlatul Ulama.
Ia menilai perbedaan pandangan dalam organisasi merupakan hal yang wajar, namun tidak boleh berkembang menjadi konflik berkepanjangan.
Konsep tersebut diwujudkan melalui gagasan Rekonsiliasi Total, yakni mengajak seluruh elemen NU kembali bersatu setelah proses kontestasi organisasi selesai.
“Tugas utama kami adalah rekonsiliasi secara menyeluruh. Setelah kontestasi selesai, persaingan harus diakhiri dan semua pihak kembali bersinergi untuk membesarkan organisasi,” katanya.
Selain rekonsiliasi, Gus Salam juga menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai pesantren sebagai fondasi dalam tata kelola PBNU.
Menurutnya, meskipun kader NU kini berasal dari beragam latar belakang, mulai dari akademisi, profesional hingga pengusaha, identitas NU sebagai organisasi yang lahir dari tradisi pesantren tidak boleh ditinggalkan.
Untuk itu, ia menawarkan penguatan tiga nilai utama pesantren atau ruhul ma’had dalam manajemen organisasi, yakni ilmiah, yaitu setiap kebijakan berlandaskan ilmu; amaliah, yakni konsisten mengamalkan ilmu demi kemaslahatan umat; serta adabiyah, yaitu menjunjung tinggi etika dan penghormatan kepada para kiai serta masyayikh.
“Tujuan kita di NU adalah berkhidmah dan mengabdi. Pengabdian yang paling sempurna adalah pengabdian yang dilandasi adab dan etika yang luhur,” tutup Gus Salam. (LWM)

