RELUNG.ID- Pagi baru saja dimulai. Jarum jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Namun, aktivitas di dapur Pempek Lala Palembang sudah berlangsung sibuk. Empat tungku kompor yang terhubung dengan jaringan gas bumi Pertamina Gas Negara (PGN) menyala bersamaan. Liukan api biru tampak stabil di bawah kuali-kuali besar berisi minyak goreng yang mulai memanas.
Di sudut dapur, seorang pekerja sibuk mengaduk adonan tepung dan ikan giling. Sebagian adonan dibentuk bulat, sebagian lainnya memanjang. Ada pula adonan yang disiapkan untuk menjadi pempek kapal selam dengan isian telur. Setelah dibentuk, satu per satu adonan dicelupkan ke dalam minyak panas hingga matang dan siap disajikan.
Ritme pekerjaan berlangsung cepat. Tidak butuh waktu lama untuk menghasilkan pempek dengan tekstur dan kematangan yang sempurna. Bagi para pekerja, kehadiran api biru dari jaringan gas bumi bukan sekadar sumber energi untuk memasak.
Lebih dari itu, gas alam telah menjadi bagian penting yang menggerakkan produktivitas usaha kuliner khas Palembang tersebut.
“Kalau pakai LPG, tidak secepat ini matangnya,” kata Firman, Koordinator Pempek Lala Palembang, Jumat (30/10/2026).
Setiap hari, Pempek Lala memproduksi sedikitnya 400 kilogram pempek untuk memenuhi permintaan pelanggan. Produksi tersebut dipasarkan di dalam Kota Palembang hingga dikirim ke luar Provinsi Sumatera Selatan, termasuk Jakarta dan sejumlah daerah di kawasan Jabodetabek.

Angka produksi itu mengalami peningkatan signifikan dibandingkan 2020. Saat masih menggunakan gas tabung, Pempek Lala hanya mampu memproduksi sekitar 200 kilogram pempek per hari. Setelah beralih menggunakan jaringan gas bumi PGN, kapasitas produksi meningkat dua kali lipat.
“Karena menggunakan gas PGN ini cepat matang, produksi kami juga meningkat menjadi 400 kilogram sehari. Sebab, matangnya lebih cepat dan hasilnya jauh lebih baik,” ujar Firman.
Peningkatan produktivitas tersebut tidak lepas dari kemampuan gas bumi menghasilkan panas yang stabil. Dengan pasokan gas yang mengalir melalui jaringan pipa, pekerja tidak lagi direpotkan dengan aktivitas mengganti tabung ketika gas habis di tengah proses memasak.
Bagi pelaku usaha yang setiap hari mengolah ratusan kilogram pempek, kepastian pasokan energi menjadi hal penting. Terlebih, proses produksi harus berjalan konsisten untuk memenuhi pesanan pelanggan yang terus berdatangan.
Manfaat penggunaan gas bumi juga terasa dari sisi pengeluaran. Firman menyebut, peralihan dari LPG ke jaringan gas PGN membuat biaya energi yang harus dikeluarkan Pempek Lala turun cukup drastis.
Sebelumnya, ketika masih mengandalkan gas tabung, pengeluaran untuk kebutuhan gas mencapai sekitar Rp70 juta per bulan. Namun, setelah menggunakan jaringan gas bumi, biaya tersebut menyusut menjadi sekitar Rp24 juta per bulan.

“Biaya produksi untuk gas yang sebelumnya mencapai Rp70 juta per bulan, sekarang hanya sekitar Rp24 juta. Jadi, jauh lebih hemat,” ungkapnya.
Efisiensi tersebut memberikan ruang bagi usaha untuk mengembangkan kapasitas produksi sekaligus memperkuat daya saing. Dengan biaya energi yang lebih terkendali, Pempek Lala dapat memenuhi permintaan pasar dalam jumlah lebih besar tanpa harus terbebani pengeluaran gas yang tinggi.
Kini, pengiriman pempek ke Jakarta dan kawasan Jabodetabek menjadi bagian dari aktivitas rutin usaha tersebut. Belum lagi pelanggan yang datang langsung untuk membeli maupun menikmati pempek di tempat.
Bagi Firman, penggunaan gas bumi PGN menjadi salah satu faktor yang membantu usaha kuliner lokal bertumbuh. Sebagai pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), efisiensi energi memberikan manfaat nyata terhadap keberlangsungan bisnis.
Pengalaman serupa dirasakan May, salah seorang pekerja Pempek Lala. Ia mengaku lebih nyaman memasak menggunakan jaringan gas bumi karena pasokan energi tersedia melalui saluran pipa yang terhubung langsung ke kompor.
“Dulu kadang sedang menggoreng banyak, tiba-tiba gas habis. Harus ganti tabung dulu. Kalau sekarang tidak khawatir lagi gas habis saat memasak. Memasak juga lebih cepat, apalagi merebus dan menggoreng pempek kapal selam maupun lenjer,” tuturnya.
Menurut May, penggunaan jaringan gas juga membuat pekerjaan di dapur lebih praktis. Pekerja dapat mengatur kebutuhan api melalui kran sesuai aktivitas memasak yang dilakukan.
Dalam sehari, 400 kilogram adonan yang diolah Pempek Lala bisa menghasilkan lebih dari 10.000 butir pempek dengan berbagai jenis. Mulai dari pempek lenjer, adaan, kapal selam hingga pempek telur.
Saat permintaan meningkat, terutama menjelang hari-hari besar, kecepatan proses memasak menjadi keuntungan tersendiri. Para pekerja dapat menyelesaikan produksi lebih cepat sehingga pesanan pelanggan tetap terpenuhi.
“Apalagi ketika hari besar, otomatis permintaan banyak. Kami juga bisa memasak lebih cepat karena matangnya lebih sempurna dibandingkan menggunakan LPG,” kata May.
Area Head PGN Palembang, Braman Setyoko, mengatakan PGN berkomitmen memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan sekaligus memenuhi kebutuhan gas bumi yang terus meningkat, terutama dari sektor industri dan komersial.
Menurut dia, pengembangan jaringan gas bumi merupakan bagian dari upaya mendukung keberlanjutan industri sekaligus mendorong pemanfaatan energi yang lebih ramah lingkungan.
“Demi keberlanjutan industri dan mendukung kebijakan energi bersih pemerintah,” ujarnya.
Braman menjelaskan, perluasan pemanfaatan gas bumi juga selaras dengan target Indonesia mencapai Net Zero Emission (NZE). Gas bumi menjadi salah satu energi yang dapat mendukung transisi menuju penggunaan energi yang lebih bersih.
Selain memperluas jaringan, PGN juga memperhatikan aspek keandalan layanan, termasuk memastikan akurasi alat ukur pemakaian gas pelanggan. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengembangkan workshop kalibrasi Off Take Station (OTS) di Demang Lebar Daun, kawasan Macan Kumbang, Palembang.
Workshop tersebut berfungsi sebagai tempat verifikasi akurasi meteran gas dengan membandingkan hasil pengukuran menggunakan alat ukur yang telah memenuhi standar nasional dan internasional.
Inisiatif pengembangan workshop kalibrasi OTS di Palembang telah diusulkan PGN sejak 2022. Fasilitas tersebut kemudian diresmikan pada 1 Maret 2024 melalui kerja sama dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Palembang dalam pelaksanaan tera meter gas diafragma.
“Keberadaan fasilitas tersebut penting untuk memastikan meteran gas yang digunakan pelanggan tetap memiliki tingkat akurasi sesuai ketentuan,”jelasnya.
Berdasarkan data PGN, workshop OTS Demang Lebar Daun melayani pengelolaan sekitar 180 ribu sambungan jaringan gas. Sebanyak 75 persen di antaranya merupakan jaringan milik PGN, sedangkan sisanya berasal dari BUMD.
Sementara itu, PGN mengelola sekitar 50 ribu sambungan rumah tangga, termasuk jaringan yang berasal dari penugasan pemerintah melalui APBN dan pengelolaan bersama anak perusahaan maupun BUMD.
Kalibrasi meter gas dilakukan secara berkala setiap 10 tahun. Prosesnya diawali dengan pemeriksaan performa meteran. Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan tingkat akurasi masih berada dalam batas toleransi, meteran tersebut dapat digunakan kembali untuk periode 10 tahun berikutnya.
Tidak hanya memperkuat infrastruktur pendukung, PGN juga terus mendorong perluasan pemanfaatan gas bumi di Sumatera Selatan. Pengembangan jaringan dilakukan untuk menjangkau lebih banyak rumah tangga, pelaku usaha, hingga sektor industri.
Berdasarkan data PGN, pengelolaan jaringan gas di wilayah Sumatera Selatan dan Jambi mencapai 49.963 pelanggan yang tersebar di delapan kabupaten/kota.
Khusus Kota Palembang, jaringan gas PGN telah menjangkau 12.100 pelanggan rumah tangga, 10 pelanggan industri, dan 231 pelanggan komersial.
Perluasan jaringan tersebut membuka peluang semakin banyak masyarakat dan pelaku usaha menikmati manfaat gas bumi.
“Bagi industri kuliner seperti Pempek Lala, kehadiran jaringan gas bukan hanya menawarkan kemudahan memasak, tetapi juga membantu menekan biaya operasional dan meningkatkan kapasitas produksi,”tambah Brahman. [YKP]

