RELUNG.ID – Langkah Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi untuk menangani persoalan siswa bermasalah menuai beragam pro dan kontra.
Salah satunya dari anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Askweni.
Dikutip dari keterangan tertulisnya, Askweni mengatakan, jika dirinya sepakat dan mendukung langkah Dedi Mulyadi dalam menangani persoalan siswa bermasalah, diantaranya yaitu kecanduan game online.
Meski demikian, Askweni disinyalir menolak jika penanganan ini melalui barak militer.
“Anak-anak bukan tentara. Kita butuh program yang bisa membentuk karakter tanpa harus menekan secara fisik,” katanya.
Menurutnya, penanganan ini harus melalui pendekatan yang mempertimbangkan aspek psikologis dan tumbuh kembang anak. Serta, melibatkan pendekatan yang lebih lembut dan terpadu lintas sektor.
“Saya mengapresiasi atensi Pak Dedi terhadap persoalan serius ini. Namun karena yang kita hadapi adalah anak-anak, maka pendekatannya harus lebih bersifat edukatif, restoratif, dan mengedepankan kesehatan mental,” kata Askweni dalam keterangan tertulisnya, Rabu (14/5).
Askweni mengatakan, saat ini ia telah membentuk tim khusus yang terdiri dari psikolog, akademisi, dan pelaku industri game untuk meneliti dampak sosial dari kecanduan game online pada anak.
“Tim ini akan menyusun rekomendasi berbasis riset untuk mendorong lahirnya kebijakan yang lebih humanis, berbasis data, dan mampu menyentuh akar masalah,” paparnya.
Dia juga mendorong agar program pendidikan karakter ini diintegrasikan dengan,layanan konseling dan kesehatan mental di sekolah, literasi digital dan game sebagai kurikulum tambahan, pelibatan orang tua dan komunitas sebagai mitra pengasuhan, insentif untuk developer lokal yang menghadirkan konten edukatif dan sehat.
Selain itu, Askweni mendorong pembentukan Satgas Digital Sehat di setiap provinsi serta hotline konsultasi 24 jam bagi keluarga yang mengalami kesulitan dalam mendampingi anak menghadapi kecanduan digital.
“Kalau kita hanya menekan tanpa membimbing, risikonya anak akan semakin tertutup. Tapi kalau kita hadir sebagai pendamping yang paham dunia mereka, maka karakter akan tumbuh dari kesadaran, bukan paksaan,” tutupnya.
Untuk diketahui, Dedi Mulyadi sebelumnya menetapkan kebijakan pendidikan karakter bagi siswa dengan perilaku khusus melalui barak militer, sebagaimana tertuang dalam Surat Edaran Nomor: 43/PK.03.04/KESRA.
Siswa dengan kecenderungan negatif seperti tawuran, merokok, balap liar, mabuk, hingga kecanduan game online akan diberikan pembinaan di lingkungan terstruktur, dengan izin dari orang tua.
Menurut Dedi, kebijakan ini merupakan respons terhadap tingginya angka kecanduan game di Jawa Barat.
Ia menyebut, sekitar 10 persen pelajar di provinsi tersebut mengalami kecanduan yang mengganggu pola tidur, aktivitas belajar, bahkan memicu perilaku menyimpang.
Dia mencontohkan kasus penusukan oleh seorang pelajar kepada kakeknya yang melarangnya keluar malam untuk bermain game.
“Anak-anak ini tidur jam 4 pagi, bangun jam 10 siang, tidak sekolah. Ini masif dan kalau tidak diintervensi bisa berujung pada hal-hal yang lebih buruk,” kata KDM. (ril)

