RELUNG.ID– Perubahan gaya hidup masyarakat menuju transaksi digital semakin terasa di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Salah satunya dialami Pebri Yanti (33), seorang ibu rumah tangga yang mengaku sudah lima tahun terakhir tidak lagi membawa uang tunai saat beraktivitas.
Setiap bepergian maupun berbelanja, Pebri hanya mengandalkan telepon genggamnya untuk melakukan pembayaran menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) yang tersedia di berbagai aplikasi mobile banking maupun dompet digital.
“Sudah jarang sekali bahkan nggak pernah bawa uang cash. Lebih simpel pakai QRIS,” kata Pebri kepada RELUNG.ID, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, pembayaran non-tunai jauh lebih praktis dibandingkan transaksi menggunakan uang tunai. Selain prosesnya cepat, ia juga tidak perlu lagi repot menerima uang kembalian dalam bentuk koin.
“Kadang suka ada kembalian kalau transaksi cash, seperti Rp500 atau Rp1.000. Sudah malas kantongi koin, jadi lebih enak pakai QRIS,” ujarnya.
QRIS yang diluncurkan Bank Indonesia sejak 2019 awalnya hanya tersedia di sejumlah pusat perbelanjaan dan restoran. Namun kini, metode pembayaran tersebut sudah dapat digunakan hampir di semua tempat, termasuk warung makan dan pedagang kecil.
“Belanja di warung pun sudah ada yang pakai QRIS, bahkan warung bakso juga sudah pakai QRIS. Pokoknya sudah lima tahun saya tidak kantongi uang tunai. Hanya beberapa kali saya, itu pun untuk bayar parkir,” katanya.
Pengalaman serupa juga dirasakan Eko (38). Ia mengaku hampir seluruh kebutuhan sehari-hari kini dibayar menggunakan QRIS.
“Beli popok anak pakai QRIS, jajan anak juga pakai QRIS. Tiap hari selalu begitu, kalau uang cash jarang-jarang,” ungkapnya.
Permudah Pembukuan UMKM
Tak hanya memberikan kemudahan bagi konsumen, QRIS juga membantu pelaku usaha kecil dalam mengelola pembukuan secara lebih rapi dan transparan.
Pemilik Kedai Kopi Sangkar di Jalan Musi Raya, Kecamatan Sako, Palembang, Rangga (28), mengatakan, sejak membuka usahanya setahun lalu ia langsung menyediakan pembayaran menggunakan QRIS.
“Lebih enak pakai QRIS, karena digital pembukuannya jelas dibandingkan manual yang bayar tunai,” katanya.
Menurut Rangga, mayoritas pelanggannya merupakan kalangan muda yang sudah terbiasa menggunakan pembayaran digital.
“Karena hampir semua yang nongkrong di sini anak muda, jadi transaksinya pakai QRIS, lebih simpel dan mudah, tak perlu uang tunai,” ujarnya.
Perkuat Ekosistem UMKM
Sekretaris Dinas Koperasi dan UMKM Kota Palembang, Etty Rossini, menilai penggunaan QRIS menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat ekosistem UMKM melalui pemanfaatan teknologi digital.
“Inovasi QRIS ini jelas memperkuat ekosistem UMKM dalam pemanfaatan teknologi. Karena transaksi lebih cepat dan perputarannya juga cepat di para pelaku usaha,” katanya.
Menurut Etty, digitalisasi pembayaran mampu meningkatkan daya saing produk lokal, bahkan membuka peluang transaksi lintas negara seiring adopsi QRIS di sejumlah negara Asia.
“Ini bisa meningkatkan daya saing produk lokal kita di pasar global,” ujarnya.
QRIS Tap, Pembayaran Lebih Cepat
Bank Indonesia juga terus mengembangkan inovasi pembayaran digital melalui peluncuran QRIS Tap pada Februari 2026. Teknologi berbasis Near Field Communication (NFC) ini memungkinkan pengguna cukup menempelkan ponsel ke mesin pembayaran tanpa perlu memindai kode QR.
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Selatan, Aries Permadi, mengatakan QRIS Tap dirancang agar transaksi menjadi lebih sederhana dan cepat.
“QRIS Tap ini berbasis NFC, jadi masyarakat cukup melakukan tap dari handphone ke mesin pembayaran. Masyarakat tidak perlu lagi melakukan scan barcode, cukup tempel saja,” ujarnya.
Menurut Aries, digitalisasi pembayaran menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan UMKM, terutama setelah pengalaman selama masa pandemi yang menunjukkan bahwa teknologi mampu membantu pelaku usaha tetap bertahan.
Saat ini implementasi QRIS Tap di Sumatera Selatan mulai diterapkan di sektor transportasi, salah satunya pada layanan Bus Damri.
Transaksi QRIS Terus Meningkat
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sumatera Selatan, Bambang Pramono, mengungkapkan nilai transaksi QRIS di Sumatera Selatan sepanjang 2025 mencapai Rp3,4 triliun, atau tumbuh 117,89 persen secara tahunan.
Tren positif tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Maret 2026, transaksi QRIS tercatat mencapai Rp2,97 triliun, meningkat 46,11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“QRIS memudahkan masyarakat melakukan pembayaran menggunakan berbagai aplikasi hanya dengan satu kode QR. Ini membuat transaksi lebih praktis dan efisien, baik bagi konsumen maupun pelaku usaha,” kata Bambang, saat menghadiri acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) di Plaza Benteng Kuto Besak (BKB), Palembang, Kamis (25/6/2026).
Ia menambahkan, Bank Indonesia terus memperluas penggunaan pembayaran digital ke berbagai sektor, mulai dari UMKM, pertanian, perkebunan, industri pengolahan, pariwisata, pasar tradisional hingga transportasi.
“Digitalisasi sistem pembayaran bukan sekadar perubahan dari transaksi tunai ke non-tunai, melainkan instrumen strategis yang mampu mempercepat aktivitas ekonomi daerah dan memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan formal,” ucap Bambang.
Kata Pengamat soal QRIS
Disisi lain, Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya (Unsri), Soekanto, berpendapat, digitalisasi transaksi penggunaan QRIS sangat penting bagi para pelaku UMKM.
“Akses pembiayaan, digitalisasi transaksi, dan literasi keuangan menjadi faktor penting dalam memperkuat daya tahan UMKM, terutama di Sumatera Selatan,”kata Soekanto.
Peran bank sentral yang berinovasi dengan mengenalkan QRIS juga mendorong pertumbuhan ekonomi. Mayoritas pelaku ekonomi usaha kecil lebih mudah dalam proses transaksi dan pembukuan.
“Penggunaan QRIS ini memperluas pelaku usaha lokal untuk lebih memiliki daya saing,”ujarnya.[YKP]

