RELUNG.ID – Penurunan jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Indonesia belum menjadi alasan bagi pemerintah untuk mengendurkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ancaman justru masih membayangi karena sebagian kebakaran terjadi di kawasan gambut yang dapat menyimpan bara meski api di permukaan telah padam.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, secara nasional tren karhutla memang mulai membaik. Namun, kondisi tersebut belum dapat disebut aman sepenuhnya.
“Secara nasional saya ingin laporkan kepada masyarakat Indonesia kita belum aman dari karhutla namun secara tren menurun, membaik,” ungkap Raja Juli di Palembang, Senin (31/8/2026).
Penurunan terlihat di sejumlah wilayah yang sebelumnya menjadi penyumbang hotspot cukup tinggi. Kalimantan Tengah, misalnya, sempat mencatat hingga 1.116 titik panas dalam dua hari sebelumnya. Setelah dilakukan penanganan bersama, jumlahnya turun menjadi sekitar 300 titik.
Di Kalimantan Barat, hotspot juga turun dari sekitar 800 menjadi 400 titik. Sementara Riau dilaporkan tidak memiliki hotspot dan Jambi hanya menyisakan satu titik.
Di Sumatera Selatan, jumlah hotspot turut mengalami penurunan, dari 39 menjadi 37 titik.
Namun, angka tersebut tidak bisa langsung dijadikan ukuran bahwa kebakaran telah berakhir.
Raja Juli mengingatkan karakter lahan gambut membuat penanganan karhutla jauh lebih rumit. Api yang tidak lagi terlihat di permukaan belum tentu berarti kebakaran benar-benar berhenti.
“Hotspot ini bukan berarti tidak ada asap karena naturenya gambut, meski tidak ada api masih ada asapnya,” ujarnya.
Lahan gambut yang telah terbakar membutuhkan proses pendinginan dan pembasahan berulang. Tanpa penanganan tersebut, bara yang masih tersimpan di bawah permukaan berpotensi kembali muncul menjadi titik kebakaran.
“Apabila tidak dilakukan pendinginan atau pembasahan intensif yang berkali-kali berpotensi menjadi fire spot kembali,” katanya.
Kondisi itu membuat pemerintah tetap mengerahkan sumber daya untuk memastikan titik-titik kebakaran benar-benar padam, bukan sekadar menghilangkan api yang terlihat dari permukaan.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto menambahkan, masyarakat juga perlu memahami bahwa data hotspot dari satelit tidak serta-merta sama dengan jumlah kebakaran yang terjadi di lapangan.
Hotspot merupakan indikasi panas yang terdeteksi sensor satelit sehingga setiap titik perlu diverifikasi untuk memastikan keberadaan api.
“Titik hotspot dipotret dari satelit, hotspot ada 1.000 belum tentu ada kebakaran di bawah. Kompor masak aja masuk dalam hotspot,” kata Suharyanto.
Verifikasi dilakukan menggunakan berbagai sarana, termasuk helikopter dan drone.
Di Sumsel, dari 37 hotspot berkekuatan tinggi yang terpantau sebelumnya, pemeriksaan di lapangan menemukan 11 titik yang benar-benar merupakan fire spot.
“37 hotspot berkekuatan tinggi setelah dicek hanya ada 11 fire spot. 11 kebakaran itu harus dipadamkan,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan seluruh titik kebakaran tersebut dapat segera dikendalikan. Selain mengerahkan personel dan peralatan di darat, strategi pemadaman juga diarahkan untuk memanfaatkan kondisi cuaca yang berpotensi mendukung penanganan.
Suharyanto mengatakan pemerintah tengah menunggu peluang hujan pada awal September. Berdasarkan informasi BMKG, terdapat potensi bibit hujan pada periode 1–6 September 2026.
Peluang tersebut akan dimanfaatkan melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) agar hujan dapat turun di wilayah yang membutuhkan pembasahan.
“Target kami secepat mungkin, dari BMKG di awal September ini 1-6 ada bibit hujan. Jadi memang yang paling efektif dan efisien adalah operasi OMC dan bisa turun hujan dengan deras,” katanya.
Hujan diharapkan tidak hanya membantu memadamkan api yang masih aktif, tetapi juga membasahi kembali lahan yang kering sehingga mengurangi risiko bara kembali muncul.
Meski demikian, pemerintah memperkirakan penanganan karhutla masih menjadi pekerjaan besar sepanjang September. Penurunan hotspot saat ini dinilai sebagai perkembangan positif, tetapi belum cukup untuk menyatakan ancaman telah berakhir.
“Di bulan September ini kita masih akan berjibaku untuk memadamkan,” tutupnya. (THQ)

