RELUNG.ID – Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) masih menjadi momok mengerikan di wilayah Sumsel, meskipun saat ini memasuki fase fenomena La Nina.
Terbukti, baru-baru ini kejadian karhutla masih terjadi di wilayah Sumsel, yakni di Ogan Ilir. Padahal, kondisi lahan masih basah.
Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Sumsel khususnya di bagian timur memang mengalami penurunan curah hujan hingga di bawah 50 mm pada pertengahan Juni 2024.
Meski demikian, BMKG menyebutkan jika kemarau tahun 2024 ini akan diwarnai fenomena La Nina yang umumnya meningkatkan curah hujan.
Seperti diketahui, La Nina adalah salah satu fenomena alam yang terjadi secara periodik di Samudera Pasifik. Fenomena ini menyebabkan suhu muka laut di wilayah tersebut mengalami penurunan, sehingga udara terasa lebih dingin dari biasanya.
Selain itu, La Nina juga berdampak pada curah hujan yang lebih tinggi dari rata-rata Dengan kondisi La Nina ini maka musim kemarau akan lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini pernah terjadi pada tahun 2020, 2021 dan 2022.
Fenomena La Nina ini seharusnya mampu mempertahankan kondisi lahan untuk tetap basah sehingga tidak mudah dibakar. Namun, pada kenyataannya Karhutla masih saja tetap terjadi.

“Ini (kebakaran) rata-rata penyebabnya dikarenakan disengaja ulah manusia. Karena tidak mungkin kondisi yang masih basah masih bisa terbakar,” kata Kepala Balai Pengendalian Perubahan Iklim dan Kebakaran Hutan Lahan (PPIKHL) Wilayah Sumatera, Ferdian Kristanto, Selasa (25/6).

