Dimana, siaga darurat karhutla ini diterapkan terhitung 13 Juni 2024 lalu dan akan berlaku hingga 30 November 2024 mendatang.
“Sembilan kabupaten/kota di Sumsel kini berproses untuk menaikkan status siaga darurat,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Senin kemarin (24/6).
Kesembilan daerah tersebut adalah Ogan Ilir (OI), Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, OKU Selatan, Musi Rawas, Musi Rawas Utara (Muratara), dan Lahat.
Nantinya, bakal ada apel kesiapsiagaan karhutla dengan seluruh instansi terkait. Bahkan, jika nantinya kondisi semakin mengkhawatirkan maka status siaga ini akan dinaikkan menjadi darurat karhutla.
Meski demikian, Sudirman menyebut berdasarkan informasi dari BMKG, puncak kemarau akan terjadi pada Juli hingga Agustus.
Sepanjang dua bulan tersebut, beberapa wilayah akan menjadi perhatian khusus. Pada tahun 2023 lalu, ada 12 daerah di Sumsel yang menjadi fokus penanganan Karhutla.

“Puncak kemarau di Sumsel terjadi Juli-Agustus. Mudah-mudahan dengan antisipasi penetapan status secara dini bisa mengantisipasi Karhutla di Sumsel,” terangnya.
Sementara itu, Kepala BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana menambahkan, jika musim kemarau tahun ini akan berlangsung lebih pendek dibandingkan tahun sebelumnya.
Mengingat, di tahun 2023 lalu musim kemarau dipengaruhi fenomena El Nino. Sedangkan, tahun ini memasuki fenomena La Nina sehingga kemarau lebih basah.

