RELUNG.ID – Di balik dinginnya kabut Gunung Rinjani dan curamnya jurang yang menelan nyawa pendaki, ada sosok yang terus hadir sebagai pemandu, penolong, dan saksi bisu tragedi maupun keindahan alam: Agam Rinjani.
Namanya mungkin baru belakangan ini dikenal luas, tetapi jejak hidupnya telah lama menempuh jalan terjal dan penuh liku.
Agam Rinjani, atau nama lengkapnya Abdul Haris Agam, adalah putra asli Makassar, Sulawesi Selatan, yang lahir pada 22 Desember 1988.
Masa kecilnya dihabiskan di lingkungan keras Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Antang, tempat yang membentuk ketahanan mental dan fisiknya sejak dini.
Di usia sekolah dasar, Agam bahkan sudah terbiasa mengendarai truk untuk membantu keluarganya bertahan hidup.
Kisah hidup Agam berubah drastis pada tahun 2016, saat ia hendak pulang ke Makassar setelah pendakian keduanya di Rinjani.
Di bandara, ia mengambil keputusan besar: menyobek tiket pesawatnya dan memilih bertahan. Ia menyebutnya sebagai “insting bertahan hidup” keputusan nekat yang membawanya ke jalan sunyi perjuangan.
Dengan uang hanya Rp10 ribu, Agam mencoba peruntungan di Bali. Ia sempat menginap di sekitar kampus Universitas Udayana, berharap bisa bertemu teman-teman lama jurusan Antropologi.
Tapi tak ada yang mengenalinya. Bahkan untuk sekadar tidur, ia harus terusir dari lingkungan kampus.
Peluang datang dari tempat tak terduga: warung lalapan. Kepada ibu penjual, Agam mengaku kelaparan dan menawarkan diri mencuci piring sebagai imbalan sepiring nasi.
Ibu penjual percaya dan menerimanya. “Saya orang baik bu, ini KTP dan kartu mahasiswa saya,” kenangnya.
Selama dua hari, ia membantu di warung tersebut, dibayar dengan makan dan sesekali rokok.
Namun, Agam tak ingin selamanya menjadi tukang cuci piring. Ia bertemu seorang senior di kampus yang memberinya tempat tinggal dan meminjamkan motor.
Dengan modal uang pinjaman Rp50 ribu, ia menuju Gunung Agung, memanfaatkan peta topografi cetakan dari Makassar.
Dari pendakian tersebut, Agam mulai dikenal. Seorang pendaki asal Jakarta yang melihat postingannya di Facebook memintanya menjadi pemandu.
Ia dibayar Rp600 ribu uang yang kemudian digunakan membeli tenda dan logistik lain untuk bertahan hidup, bahkan menyeberang ke Lombok dengan sisa Rp20 ribu.
Setibanya di Lombok, Agam tidur di pantai Senggigi, memancing dan memasak sendiri di dalam tenda.
Namun, hidupnya bukan semata untuk diri sendiri. Ia mulai mengamati kondisi para nelayan lokal. Dengan latar belakang ilmu Antropologi, Agam menuliskan laporan kondisi masyarakat nelayan dan menghubungi seniornya di kampus Unhas. Hasilnya, bantuan pemerintah pun turun: perahu dan alat tangkap ikan.
Meski sempat ditawari tinggal bersama dan menikah oleh keluarga nelayan yang terbantu, Agam memilih kembali ke alam.
Ia memutuskan menuju Sembalun dan bertahan hidup di hutan dengan memanfaatkan umbi-umbian, pisang, dan teknik survival yang telah ia pelajari sejak kecil.
Di Sembalun, Agam menjadi porter gunung. Dari sana, perlahan-lahan ia dikenal sebagai pemandu yang andal dan penuh tanggung jawab.
Penghasilannya waktu itu hanya sekitar Rp150 ribu, tapi ia jalani dengan penuh semangat. Tamunya datang dari rekomendasi mulut ke mulut, dan sebagian bahkan langsung meminta Agam tanpa perantara.
Nama Agam mulai dikenal luas setelah keterlibatannya dalam evakuasi jenazah pendaki Brasil, Juliana Marins (27), yang tewas jatuh ke jurang 600 meter di Rinjani pada Juni 2025.
Lewat siaran langsung di TikTok yang viral, Agam menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga Juliana dan publik Brasil karena tak mampu menyelamatkannya dalam keadaan hidup.
“Saya minta maaf tidak bisa membawa pulang dengan selamat karena kondisi medan yang berat dan terlalu jauh ke bawah,” ucap Agam, menahan kesedihan.
Ia bukan hanya operator teknis dalam proses evakuasi. Agam tampil sebagai wajah kemanusiaan yang mengedepankan empati dan keberanian.
Ia ikut langsung menuruni jurang, mengikat jenazah dengan carabiner, dan menariknya ke atas bersama tim. Ini bukan kali pertama pada Mei 2025, ia juga menjadi bagian dari tim penyelamat WNA asal Malaysia yang mengalami kecelakaan serupa.
Di akun Instagram-nya, @agam_rinjani, berbagai dokumentasi memperlihatkan dedikasi dan ketulusan Agam dalam tugasnya. Ia bukan hanya seorang pemandu. Ia adalah penjaga Rinjani.
Sosok yang tak hanya mengenal tiap tikungan dan tebing, tapi juga setiap denyut kemanusiaan yang hadir di gunung tersebut.
Kini, Agam menetap di sebuah rumah kayu kecil ukuran 4×3 meter di Sembalun. Tanah tempat rumah itu berdiri adalah milik temannya dari Mapala Aranyacala.
Bagi Agam, gunung bukan sekadar tempat mencari uang, tapi ruang hidup, ruang belajar, dan ruang berbagi.
“Saya hanya bisa bantu seperti ini,” ujarnya sederhana.
Namun sesungguhnya, ia telah memberi lebih dari sekadar “bantuan.” Agam telah menunjukkan bahwa dari hidup yang nyaris tak punya apa-apa, seseorang bisa tumbuh jadi sosok luar biasa. Ia mendaki bukan sekadar gunung, tapi mendaki derajat kemanusiaannya sendiri. (vid)

