RELUNG.ID – Polemik materi stand up comedy yang dibawakan komika asal Palembang, Ali Alkaf, terkait Perang 5 Hari 5 Malam Palembang akhirnya berujung pada mediasi.
Ali Alkaf menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga pejuang, keturunan Kesultanan Palembang Darussalam, serta masyarakat Palembang yang merasa tersinggung dengan materi komedi tersebut.
Permintaan maaf itu disampaikan dalam pertemuan yang digelar di kediaman budayawan Palembang, Fir Azwar, pada Minggu malam (6/9/2026).
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah budayawan, pegiat sejarah dan budaya, keturunan pejuang Perang 5 Hari 5 Malam Palembang, kuasa hukum pihak pengadu, serta Ali Alkaf yang datang bersama keluarganya.
Polemik bermula setelah potongan video penampilan Ali Alkaf beredar melalui akun TikTok SOMASI COMMUNITY (SC).
Dalam video tersebut, Ali membawakan materi satire yang menyinggung peristiwa Perang 5 Hari 5 Malam Palembang yang berlangsung pada 1 hingga 5 Januari 1947.
Sejumlah bagian materi mempertanyakan durasi peperangan, persoalan makanan dan layanan kesehatan, hingga menggambarkan interaksi antara tentara Palembang dan Belanda dalam bentuk candaan.
Materi itu juga menyinggung Kesultanan Palembang dalam konteks pertemuan dengan pihak Belanda setelah peperangan. Dalam salah satu bagian candaan, kemenangan Palembang dikaitkan dengan penggunaan batu cincin.
Potongan penampilan tersebut kemudian menuai keberatan dari sejumlah pegiat sejarah, budayawan, hingga keluarga dan keturunan pejuang.
Mereka menilai materi tersebut tidak tepat karena menjadikan perjuangan para pejuang dan masyarakat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan sebagai bahan lelucon.
Keberatan itu kemudian disampaikan melalui somasi yang dilayangkan anak cucu pejuang perintis kemerdekaan Perang 5 Hari 5 Malam Palembang melalui kuasa hukum Duo Iskandar Law Office (DILO) & Partners.
Kuasa hukum pengadu, Iskandar Sabani, mengatakan somasi tersebut dilayangkan karena kliennya merasa resah dan keberatan atas konten yang beredar.
“Klien kami merasa resah, kecewa, dan keberatan atas beredarnya konten yang dibuat oleh Ali Alkaf melalui akun SOMASI COMMUNITY. Konten tersebut dinilai telah menimbulkan kerugian dan mencemarkan nama baik para pejuang Perang 5 Hari 5 Malam Palembang dan sekitarnya,” kata Iskandar, Senin (7/9/2026).
Para pengadu yang diwakili Iskandar yakni Edi Candra alias Bung Jhon, cucu pejuang Kadir Romli; Angga Anugerah Dyaz, cucu Kol H Burlian; Fir Azwar dari Komunitas Budaya Batang Hari 9 (KOBAR-9); serta Hidayatul Fikri alias Mang Dayat selaku pegiat sejarah dan budaya.
Iskandar menyebut para pengadu memiliki kepedulian terhadap sejarah perjuangan bangsa, khususnya perjuangan rakyat Palembang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Menurutnya, materi yang dipersoalkan dinilai berpotensi mengarah pada dugaan pencemaran nama baik dan/atau fitnah.
“Dugaan tersebut berkaitan dengan ketentuan Pasal 27A juncto Pasal 45 ayat (4) Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) Nomor 1 Tahun 2024, serta ketentuan KUHP mengenai pencemaran tertulis dan fitnah,” jelasnya.
Namun, persoalan tersebut kemudian ditempuh melalui jalur mediasi. Dalam pertemuan itu, kedua pihak menyepakati sejumlah langkah sebagai bentuk penyelesaian.
Salah satunya, Ali Alkaf diminta membuat video permintaan maaf. Video tersebut telah dibuat dan menjadi bagian dari penyelesaian polemik.
Selain itu, Ali diminta melakukan penghormatan kepada bendera Merah Putih di Taman Makam Pahlawan Ksatria Ksetra Siguntang dan mengunjungi Tugu Pertempuran Lima Hari Lima Malam Palembang.
Ali juga diminta mengikuti tradisi tepung tawar di Istana Kesultanan Palembang Darussalam serta bertemu dengan Sultan Palembang Darussalam, Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) IV RM Fawaz Diraja.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, Ali juga diminta mengikuti kegiatan peringatan Perang 5 Hari 5 Malam Palembang selama minimal tiga tahun berturut-turut.
Dalam pertemuan tersebut, Ali menyampaikan penyesalan atas materi yang telah menimbulkan polemik.
Ia menegaskan tidak pernah bermaksud menghina, melecehkan, ataupun merendahkan perjuangan para pejuang Palembang.
“Saya sebagai pelaku utama yang menyampaikan materi tersebut meminta maaf sebesar-besarnya, terutama kepada keluarga para pejuang Perang 5 Hari 5 Malam, para zuriat Kesultanan Palembang Darussalam, dan warga Kota Palembang yang merasa tersakiti dengan materi saya tersebut,” ujar Ali.
Ali menjelaskan materi tersebut awalnya dibuat untuk tujuan hiburan. Namun, ia mengakui cara penyampaiannya telah melewati batas dan menimbulkan ketersinggungan.
“Saya sama sekali tidak memiliki niat untuk mengolok-olok, melecehkan, ataupun menghina. Saya cuma mencoba sekadar menghibur, tapi mungkin batasnya saya sebagai anak muda belum paham,” katanya.
Ali pun mengakui materi yang dibawakannya telah menjadi polemik dan menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
“Jadi kelewatan batas, keblablasan,” tutupnya. (DSK)

