RELUNG.ID – Memburuknya kualitas udara akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi perhatian serius karena berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat Kota Palembang.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palembang meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan.
Imbauan tersebut disampaikan setelah Komisi IV DPRD Palembang menggelar rapat koordinasi bersama Dinas Kesehatan Kota Palembang, RSUD Bari, dan Dinas Pendidikan Kota Palembang di ruang rapat Komisi IV, Senin (7/9/2026).
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Palembang, Mgs Syaiful Fadli, mengatakan kualitas udara Palembang saat ini sudah berada pada kategori tidak sehat. Berdasarkan hasil pemantauan, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tercatat mencapai 159.
Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian karena beriringan dengan tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Palembang.
“Kasus ISPA harian saat ini mencapai 655 kasus. Secara kumulatif sejak Januari hingga Agustus 2026 mencapai 115.020 kasus, dan angka ini menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir,” ujar Syaiful, Selasa (8/9/2026).
Menurutnya, peningkatan kasus ISPA tidak boleh dianggap sepele. Pemerintah bersama masyarakat perlu memperkuat langkah pencegahan, terutama jika kualitas udara akibat kabut asap terus memburuk.
“Kesiapan layanan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan, harus menjadi prioritas. Jangan sampai menunggu korban bertambah,” tegasnya.
Komisi IV bersama Dinas Kesehatan dan RSUD Bari juga mengimbau masyarakat yang harus beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker. Langkah tersebut diperlukan untuk mengurangi risiko paparan partikel polusi dan asap.
Anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki keluhan gangguan pernapasan diminta lebih berhati-hati. Mereka dianjurkan mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama pada pagi hari ketika kabut asap cenderung lebih pekat.
Masyarakat juga diminta segera memeriksakan diri apabila mulai mengalami gejala ISPA, seperti batuk, pilek, sakit tenggorokan maupun sesak napas.
“Kami mengimbau warga segera memeriksakan diri ke Puskesmas terdekat apabila mengalami gejala ISPA,” katanya.
Berdasarkan data layanan kesehatan, sejumlah wilayah di Palembang tercatat mengalami kasus ISPA cukup tinggi. Kecamatan Sukarami menjadi salah satu wilayah dengan jumlah kasus terbanyak, yakni mencapai 80 kasus.
Sementara itu, Puskesmas Pembina mencatat jumlah kasus sebanyak 33 kasus.
Jika dilihat berdasarkan kelompok usia, masyarakat berusia produktif 19 hingga 59 tahun menjadi kelompok dengan jumlah kasus ISPA terbanyak, yakni mencapai 274 kasus.
Selain sektor kesehatan, kondisi kabut asap juga menjadi perhatian di bidang pendidikan. Komisi IV DPRD Palembang meminta Dinas Pendidikan menyiapkan skenario pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar daring apabila kualitas udara semakin memburuk.
Langkah tersebut dinilai perlu dipersiapkan untuk melindungi para pelajar yang termasuk kelompok rentan terhadap dampak polusi udara.
Syaiful kembali mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap ringan kondisi kualitas udara Palembang saat ini. Warga diminta aktif memantau perkembangan kualitas udara dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah.
“Warga diimbau terus memantau kualitas udara dan mengikuti arahan dari Dinas Kesehatan maupun Dinas Lingkungan Hidup Kota Palembang,” pungkasnya. (DSK)

