RELUNG.ID – Suhu udara yang semakin panas, pola hujan yang sulit diprediksi hingga kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan menjadi tanda bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat.
Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam podcast Ruang Redaksi Relung Media yang mengangkat tema perubahan iklim, emisi karbon, jejak aktivitas manusia dan kaitannya dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Podcast tersebut menghadirkan dua narasumber yakni, Manajer Program dan Kampanye Hutan Kita Institute (HaKI) Adios Syafri dan Ketua Pusat Studi Lingkungan STIPER Sriwigama Palembang Dr. Krisna Delita, M.Si yang dipandu oleh host, Lina Ranti.
Dalam podcast tersebut, Adios mengatakan, perubahan iklim pada dasarnya tidak secara langsung menyebabkan kebakaran. Namun, perubahan iklim memperbesar risiko ketika suatu wilayah tidak memiliki kesiapan menghadapi kondisi cuaca yang semakin ekstrem.
“Perubahan iklim ini sebenarnya memperbesar risiko saja. Bagaimana kondisi lanskap dan aktivitas manusia menentukan seberapa besar risiko itu bisa menjadi bencana,” kata Adios.
Menurut dia, peringatan mengenai potensi El Nino dan musim kemarau seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah maupun masyarakat untuk mempersiapkan langkah mitigasi sejak jauh-jauh hari.
Terlebih, kondisi kering membuat lanskap menjadi lebih rentan terbakar. Persoalan semakin kompleks ketika kawasan gambut kehilangan air akibat pengelolaan yang tidak tepat.
Adi menyebut, berdasarkan kompilasi data yang dihimpun pihaknya, terdapat ribuan titik panas di Sumatera Selatan sejak periode berkurangnya curah hujan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Muara Enim, Banyuasin dan PALI menjadi sejumlah wilayah yang tercatat memiliki titik panas cukup tinggi.
Namun, persoalan karhutla tidak semata-mata berada di kawasan gambut. “Dari 2.536 hotspot ini, yang berada di kawasan kesatuan hidrologis gambut baru sekitar 23 persen. Artinya 77 persen berada di lahan mineral,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor manusia dalam pengelolaan lahan juga menjadi bagian penting dalam melihat persoalan karhutla.
Sementara itu, Krisna menjelaskan bahwa perubahan iklim telah ditandai dengan sejumlah perubahan ekologis, termasuk peningkatan suhu dan pergeseran pola musim.
Menurut dia, peningkatan suhu akan memengaruhi siklus air, vegetasi hingga ketersediaan cadangan air. Ketika kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas manusia, risiko terjadinya kebakaran menjadi semakin besar.
“Dengan kondisi musim yang kering, lahan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran. Tetapi lahan tidak mungkin terbakar dengan sendirinya, pasti ada sumber api,” katanya.
Sumatera Selatan, lanjut Krisna, memiliki kerentanan tersendiri karena sekitar 24 persen wilayahnya merupakan lahan gambut. Sebagian kawasan gambut tersebut telah mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan maupun kebakaran.
Gambut yang mengalami pengeringan menjadi sangat rentan terbakar. Berbeda dengan kebakaran di permukaan tanah, api di kawasan gambut dapat menjalar hingga ke lapisan bawah sehingga jauh lebih sulit dipadamkan.
Kondisi tersebut juga menciptakan persoalan berulang. Ketika gambut rusak dan terbakar, vegetasi yang tumbuh kembali belum tentu mengembalikan fungsi ekologis seperti kondisi awal. Pada saat yang sama, kebakaran kembali menghasilkan emisi gas rumah kaca yang semakin memperburuk persoalan perubahan iklim.
Karena itu, kedua narasumber menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah muncul.
Pencegahan harus dimulai dengan membangun ketahanan lanskap sebelum musim kemarau tiba. Khusus kawasan gambut, pengelolaan air menjadi salah satu kunci utama.
Lantas, seberapa besar perubahan iklim memengaruhi karhutla? Mengapa sebagian besar titik panas justru berada di lahan mineral? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah bencana asap kembali berulang?
Simak pembahasan lengkapnya dalam Podcast Ruang Redaksi di channel Youtube @relungmedia yang tayang pada, Sabtu (5/9/2025). (KPB)

