Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/2026

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Sungai-Sungai Palembang Sekarat, Sejarawan: Kota Ini Sedang Kehilangan Jiwanya
Regional

Sungai-Sungai Palembang Sekarat, Sejarawan: Kota Ini Sedang Kehilangan Jiwanya

RiyadiBy Riyadi15/07/2025
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Focus Group Discussion (FGD) bertajuk "Sungai: Jejak Sejarah, Realita Hari Ini, dan Masa Depan Kota Palembang", yang diadakan pada Senin (14/7/2025) sore di Utopia Palembang. (Handout)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID- Di tengah hiruk-pikuk modernisasi, anak-anak sungai di Kota Palembang yang dahulu menjadi nadi kehidupan kini sekarat. Dari ratusan anak Sungai Musi yang tercatat sejak masa kolonial, sebagian besar telah ditimbun, tercemar limbah, atau dibiarkan mati.

Ironisnya, pemerintah seolah abai terhadap akar masalah, sementara kesadaran masyarakat atas pentingnya ekosistem sungai pun nyaris lenyap.

Sejarawan Universitas Sriwijaya (Unsri) sekaligus Ketua Pusat Kajian Sejarah Sumatera Selatan (Puskass), Dr. Dedi Irwanto, M.A., menegaskan pentingnya penyelamatan anak-anak sungai di Palembang.

Baca juga :   Bidpropam Polda Sumsel Gelar Gaktibplin, Periksa Kendaraan dan Disiplin Personel

“Palembang adalah kota sungai, bukan hanya karena Sungai Musi yang membelah tubuhnya, tetapi karena seluruh nadi kehidupan masyarakatnya dahulu mengalir lewat ratusan anak-anak sungai,” ujar Dedi saat menjadi narasumber Focus Group Discussion (FGD) bertajuk Sungai: Jejak Sejarah, Realita Hari Ini, dan Masa Depan Kota Palembang, Senin (14/7/2025) di Utopia Palembang.

Menurut Dedi, tepian sungai dulunya menjadi pusat tumbuhnya pasar, rumah, hingga kekuasaan. Kini, wajah lama Palembang nyaris tak dikenali lagi. Banyak sungai ditimbun, dialihkan, disempitkan, bahkan dibiarkan mati.

“Palembang yang dikenal sebagai kota air, kini kehilangan sungainya,” katanya.

Baca juga :   Prakiraan Cuaca Hari Ini, Palembang Diminta Waspada

Dedi menjelaskan, Palembang pernah memiliki budaya kuat yang sangat erat dengan sungai. Rumah-rumah menghadap ke air, sungai menjadi jalur utama transportasi, perdagangan, hingga pemerintahan.

“Namun modernisasi mengubah cara pandang kita. Sungai kini hanya dianggap saluran buangan,” ujarnya.

Sejak awal abad ke-20, kolonialisme mulai menyingkirkan peran sungai lewat proyek pengurugan demi pembangunan pelabuhan, pasar, hingga jalan. Tahun 1913, Pemerintah Gemeente Palembang bahkan mengundang ahli sungai dari Belanda, Rudolf A. van Sandick, untuk meneliti sistem perairan kota. Namun, alih-alih memperkuat sistem air, banyak anak sungai justru ditutup.

Baca juga :   Begal Sadis di Palembang Terekam CCTV, IRT Diserang Dua Pelaku Bersenjata Tajam di Talang Kelapa

Contoh ironi terbesar adalah Sungai Tengkuruk. Pada abad ke-17, sungai ini menjadi jalur diplomatik menuju Kraton Cinde Belang. Kini, yang tersisa hanyalah pasar, beton, dan kemacetan jalan kota.

“Banyak warga tak tahu, jalan yang mereka lalui dulunya adalah sungai,” kata Dedi.

Menurutnya, inilah bukti kekuasaan membentuk ruang. Di satu sisi, kolonialisme membawa zonasi pembangunan, namun di sisi lain menghapus sistem ruang lokal yang berbasis air.

Baca juga :   Kecamatan Gandus Kota Palembang Alami Peningkatan Kasus DBD

“Transformasi ini terus berlanjut hingga era republik. Proyek ekspansi kota, pengeringan lahan, hingga urbanisasi makin mempercepat kematian anak-anak sungai,” ujarnya.

Dari 117 anak sungai yang tercatat awal abad ke-20, kini sebagian besar hanya tinggal nama. Banyak berubah jadi got tertutup, sisanya mati perlahan sebagai saluran limbah.

Revitalisasi seperti proyek Sekanak Lambidaro memang memberi harapan, namun Dedi menilai, tanpa kesadaran sejarah dan budaya, proyek semacam ini hanya akan jadi lanskap tanpa jiwa.

Baca juga :   Jelang Arus Mudik, Penumpang Bandara SMB II Palembang Diprediksi Naik 3 Persen

“Kota yang menutup airnya sendiri harus belajar membuka kembali, bukan hanya jalur airnya, tapi juga memori kolektifnya,” tegasnya.

Sejarawan UIN Raden Fatah Palembang, Dr. Kemas A.R. Panji, M.Si., juga menyoroti krisis sungai di Palembang.

“Sungai Musi memang masih berkilau, tapi kilau itu bukan lagi cermin kejernihan. Di balik alirannya, ada cerita-cerita lama yang nyaris tenggelam bersama lumpur dan limbah yang lebih menyengat dari harapan,” katanya.

Baca juga :   Empat Tambang Galian C Ilegal di Palembang Disegel Tim Gabungan

Menurut Kemas, Palembang lahir dari air. Sejak abad ke-7, Sungai Musi dan ratusan anak sungainya bukan sekadar jalur lalu lintas, tapi ruang hidup yang membentuk lanskap budaya, sosial, hingga ekonomi.

“Palembang bukan sekadar kota di tepian sungai. Kita tumbuh di atas sungai,” kata anggota Puskass ini.

Dari catatan I-Tsing abad ke-7 hingga peta kolonial Belanda abad ke-19 dan 20, tercatat lebih dari 700 sungai mengaliri Palembang. Namun kini, data Koalisi Kawali 2025 mencatat hanya tersisa 114 sungai aktif. Ini alarm keras atas abainya pengelolaan warisan ekologis Palembang.

Baca juga :   Gubernur Jabar Peluk Anak-anak Polisi yang Gugur, Siap Jadi Anak Asuh

Tepi-tepi sungai yang dulu hidup dengan rumah panggung dan perahu rakit kini berubah jadi kanal mati dan drainase beton. Sungai Sekanak yang dulu menghubungkan komunitas kampung tradisional kini tengah direstorasi lewat proyek Sekanak Lambidaro Riverfront.

Namun, Kemas mengingatkan, restorasi tanpa edukasi dan partisipasi masyarakat hanya akan jadi proyek mercusuar.

Pada masa Kesultanan Palembang Darussalam, sungai adalah jalur perdagangan, sistem pertahanan, hingga tempat tumbuhnya budaya rakyat. Benteng Kuto Besak, misalnya, dibangun di antara empat sungai: Kapuran, Sekanak, Tengkuruk, dan Musi.

Baca juga :   Wisata Menara Jembatan Ampera Segera Diresmikan Pemkot Palembang

“Dari sungai-sungai itulah lahir syair lisan, pantun, hingga upacara adat. Tapi kini banyak anak-anak tak lagi kenal nama sungai di kampungnya. Sungai Aur, Prigi, atau Sekanak terdengar asing. Padahal itu identitas,” ujarnya.

Kemas menilai, Palembang kaya sejarah sungai, tapi miskin pengelolaan. Urbanisasi tanpa arah menjadikan sungai sebagai korban. Pencemaran, pendangkalan, hingga bangunan di sempadan sungai jadi pemandangan sehari-hari.

Namun ia percaya harapan belum musnah. Sungai masih bisa menjadi koridor wisata sejarah dan ekonomi hijau. Rumah-rumah tua seperti Rumah Limas Cek Mas dan rumah Baba Ong Boen Tjit, saksi bisu kejayaan perdagangan sungai, masih berpotensi jadi destinasi wisata sejarah.

Baca juga :   Mitigasi Pasca Bencana, 100 Personel Satbrimob Polda Sumsel BKO ke Gayo Lues

“Revitalisasi anak sungai, pemberdayaan komunitas tepian, promosi perahu ketek, dan pelestarian rumah limas adalah strategi yang kami ajukan,” katanya.

Bagi Kemas, penyelamatan sungai bukan sekadar nostalgia, melainkan soal masa depan.

“Jika kita gagal menjaga sungai hari ini, kita sedang menenggelamkan peradaban esok hari,” tegasnya.

Palembang memiliki banyak regulasi dari UU Sumber Daya Air, Perda, hingga Perwali—namun hukum tanpa penegakan hanyalah lembaran kertas.

Baca juga :   Target Emas! Palembang Siap Tempur di Cabor Sepak Bola Porprov XV Muba

“Yang kita butuhkan sekarang adalah kesadaran kolektif. Menjaga sungai berarti menjaga sejarah, lingkungan, dan masa depan,” katanya.

Budayawan sekaligus Youtuber Palembang, Hidayatul Fikri, menegaskan perlunya langkah konkret penyelamatan sungai. Menurutnya, perlu segera dibentuk satgas percepatan normalisasi sungai yang membuat langkah signifikan.

“Kita juga mendesak Pemkot Palembang memblokir di BPN semua koordinat sungai agar tak bisa diterbitkan sertifikat,” ujarnya.

Baca juga :   Kebakaran Toko Sembako di Muratara, Dua Unit Mobil Ikut Ludes

Selain itu, menurut Fikri, demi pengawasan yang lebih kuat hingga tingkat kelurahan, perlu dibuat jaring pembatas antarwilayah kelurahan terkait kawasan sungai.

“Segera terbitkan Perda tentang perlindungan sungai dan larangan membuang sampah sembarangan, khususnya di sungai,” tegasnya.[DSK]

Kehilangan Jiwa Palembang Sejarawan Sungai
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleGoogle Gabungkan Android dan ChromeOS Jadi Satu Platform
Next Article Hilang di Hutan Banyuasin, Karyawan Tambang Batubara Ditemukan Selamat oleh Tim SAR


Riyadi

Related Posts

Regional

Karhutla Sudah Bikin Malu Bangsa, Asap Indonesia Ganggu Negara Tetangga 

10/10/20265 Views
Regional

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/20265 Views
Regional

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/20262 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,876 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,748 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,722 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?