RELUNG.ID-Isak tangis keluarga tak terbendung saat Oditur Militer I-05 Palembang memperlihatkan barang-barang milik tiga anggota Polri yang tewas dalam insiden penembakan oleh terdakwa Kopda Bazarsah.
Momen mengharukan itu terjadi di akhir sidang pemeriksaan 14 saksi kasus penembakan berdarah tersebut, Senin (23/6/2025).
Ketiga korban yang gugur adalah Aipda Anumerta Petrus, Briptu Anumerta Ghalib, dan AKP Anumerta Lusiyanto.
Barang-barang milik para korban ditunjukkan satu per satu di ruang sidang, mulai dari pakaian dinas, celana, sandal, sepatu, tasbih, hingga seragam Kapolsek, semuanya dibungkus dalam plastik transparan.
Suasana ruang sidang Pengadilan Militer I-04 Palembang mendadak hening ketika Oditur juga memperlihatkan senjata api laras panjang jenis SS1 yang telah dimodifikasi dengan komponen FNC senjata yang digunakan terdakwa dalam aksi penembakan.
“Benar ya, ini senjata yang digunakan?” tanya Ketua Majelis Hakim Kolonel CHK Fredy Ferdian Isnartanto kepada terdakwa dan saksi.
Kopda Bazarsah beserta saksi mengangguk, membenarkan pernyataan hakim.
Ketika majelis hakim menanyakan kepada pihak keluarga apakah barang-barang korban ingin dikembalikan, keluarga yang hadir hanya bisa menjawab lirih sembari menangis dan menutup wajah.
“Iya, Yang Mulia… dikembalikan,” ucap salah satu anggota keluarga dengan suara terbata.
Dalam sidang tersebut, sebanyak 13 orang saksi yang dihadirkan oleh Oditur Militer untuk dimintai keterangan. 13 saksi itu merupakan personel dari Polres Way Kanan dan Polsek Negara Batin yang ikut dalam penggerebekan arena sabung ayam yang dikelola oleh Kopda Bazarsah dan Peltu Yun Heri Lubis.
Suasana haru tak hanya dirasakan oleh keluarga korban, namun rekan satu tim yang ikut dalam rombongan juga masih mengingat jelas peristiwa berdarah tersebut.
Seperti yang diutarakan oleh Aipda Wara Ardany Rambe yang menjabat sebagai Kanit Reskrim Polsek Negara Batin.
Aipda Wara berangkat dalam satu mobil bersama Kapolsek Negara Batin AKP Anumerta Lusiyanto dan Bripka Petrus Apriyanto menuju lokasi penggerebekan.
“Kami berangkat berlima menggunakan mobil, Kapolsek bersama Bripka Heri Suryadi dan Robert Pardede duduk dibelakang. Saya di depan dan Bripka Petrus Apriyanto yang nyetir,”kata Wara, di depan Hakim Pengadilan Militer 1-04 Palembang, Senin (23/6/2025).
Ketika tiba di lokasi arena sabung ayam, AKP Anumerta Lusiyanto langsung turun dari mobil memimpin penggerebekan.
Terdapat satu mobil Toyota Agya yang hendak keluar dari lokasi judi sabung ayam melihat kedatangan polisi. Lusiyanto pun langsung menghadang mobil tersebut.
“Tak lama dari itu ada suara tembakan dari dalam (arena judi). Lalu terdengar lagi suara tembakan dari luar,”ujarnya.
Aipda Wara saat itu hanya berjarak 7 meter dari Kapolsek. Sedangkan Bripka Petrus berada di belakang bersama anggota lainnya.
Ketika kejadian, Aipda Wara mengaku melihat Kopda Bazarsah menggunakan baju hitam ia mengarahkan senjatanya ke Petrus hingga terjatuh terkena tembakan.
“Tak lama ada teriakan anggota yang lain bahwa Petrus tertembak. Saya melihat bola matanya pecah. Saat itu saya panik,” ungkap Wara.
Aipda Wara pun langsung mencoba menyelamatkan diri dengan melompat ke kebun singkong di sekitar lokasi kejadian.
Setelah tak ada lagi suara tembakan ia pun baru memberanikan diri untuk keluar.
“Saat suara tembakan berhenti saya pindah ke mobil yang berada di barisan kedua dan berkumpul dengan teman-teman yang lain,” jelas dia.
Ia baru menyadari bahwa tembakan itu telah menewaskan Kapolsek Negara Batin AKP Anumerta Lusiyanto bersama Bripka Petrus Apriyanto beserta Bripda Ghalib.
Mereka kemudian meminta bantuan ke Polres Way Kanan untuk melakukan evakuasi jenazah tiga korban.
“Saya begitu sedih sebelumnya sempat bercanda bersama satu mobil. Kami berangkat berlima pulang bertiga,”ujarnya menahan tangis.[YKP]

