RELUNG.ID– Pusat Layanan Psikologi (PLP) Universitas Bina Darma (UBD) Palembang menerjunkan 50 relawan untuk memberikan pendampingan psikologis kepada korban kebakaran di Jalan Mayjend HM Ryacudu, Lorong Sabar, Kelurahan 8 Ulu, Kecamatan Jakabaring, Palembang, beberapa hari lalu.
Tim yang tergabung dalam Psychological First Aid (PFA) atau Pertolongan Pertama Psikologis itu terdiri dari empat dosen dan 46 mahasiswa Program Studi Psikologi serta Fakultas Sosial Humaniora UBD.
Program kemanusiaan tersebut diinisiasi Ketua PLP sekaligus Ketua Program Studi Psikologi UBD Palembang, Itryah, sebagai bentuk kepedulian perguruan tinggi terhadap masyarakat yang terdampak bencana.
Ketua Tim PFA-PLP UBD Palembang, Neyza Saharani, mengatakan psikoedukasi menjadi salah satu bagian penting dalam pendampingan, terutama bagi anak-anak yang mengalami dampak psikologis akibat kebakaran.
“Materi disampaikan melalui aktivitas yang menarik dan disesuaikan dengan karakteristik anak-anak, sehingga mereka dapat belajar mengenali perasaan, memahami respons emosional, dan menemukan cara sederhana untuk menenangkan diri,” kata Neyza.
Menurut dia, pendampingan tersebut tidak bertujuan menghapus pengalaman sulit yang dialami anak-anak. Sebaliknya, kegiatan ini diharapkan membantu mereka membangun kembali rasa aman, memperkuat interaksi sosial, serta beradaptasi dengan perubahan setelah bencana.
“Pendampingan ini juga dapat menjadi langkah awal untuk mengidentifikasi anak-anak yang membutuhkan perhatian lebih lanjut dari tenaga profesional,” ujarnya.
Neyza menambahkan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa ilmu psikologi dapat diterapkan secara langsung untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi kesempatan untuk mempraktikkan empati, komunikasi suportif, etika pendampingan, kerja sama tim, dan tanggung jawab sosial.
Ia menilai sinergi antara PLP UBD, masyarakat setempat, dan Tim Psikolog Kresna HIMPSI Wilayah Sumatera Selatan penting untuk memperkuat pendampingan bagi warga terdampak.
“Relawan tidak menggantikan peran keluarga maupun tenaga profesional, tetapi berupaya memperluas dukungan agar masyarakat terdampak dapat memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya,” jelas Neyza.
Menurut dia, kegiatan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan kemanusiaan. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan beriringan melalui keterlibatan langsung dalam membantu warga menghadapi situasi pascabencana.[DNP]

