Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/2026

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/2026

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Sunday, 11 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Regional»Sumsel Makin Panas! Perubahan Iklim atau Karhutla Ulah Manusia?
Regional

Sumsel Makin Panas! Perubahan Iklim atau Karhutla Ulah Manusia?

ADMINBy ADMIN04/09/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Suhu udara yang semakin panas, pola hujan yang sulit diprediksi hingga kabut asap yang kembali menyelimuti sejumlah wilayah Sumatera Selatan menjadi tanda bahwa perubahan iklim bukan lagi persoalan yang jauh dari kehidupan masyarakat.

Fenomena tersebut menjadi pembahasan dalam podcast Ruang Redaksi Relung Media yang mengangkat tema perubahan iklim, emisi karbon, jejak aktivitas manusia dan kaitannya dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Podcast tersebut menghadirkan dua narasumber yakni, Manajer Program dan Kampanye Hutan Kita Institute (HaKI) Adios Syafri dan Ketua Pusat Studi Lingkungan STIPER Sriwigama Palembang Dr. Krisna Delita, M.Si yang dipandu oleh host, Lina Ranti.

Baca juga :   Air Mulai Menipis, Karhutla Muara Medak Muba Capai 115 Hektare

Dalam podcast tersebut, Adios mengatakan, perubahan iklim pada dasarnya tidak secara langsung menyebabkan kebakaran. Namun, perubahan iklim memperbesar risiko ketika suatu wilayah tidak memiliki kesiapan menghadapi kondisi cuaca yang semakin ekstrem.

“Perubahan iklim ini sebenarnya memperbesar risiko saja. Bagaimana kondisi lanskap dan aktivitas manusia menentukan seberapa besar risiko itu bisa menjadi bencana,” kata Adios.

Menurut dia, peringatan mengenai potensi El Nino dan musim kemarau seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah maupun masyarakat untuk mempersiapkan langkah mitigasi sejak jauh-jauh hari.

Baca juga :   Pemprov Stop Tiga Tambang di Muba, DPRD Sumsel Minta Tambang Nakal Tak Lagi Diberi Ruang

Terlebih, kondisi kering membuat lanskap menjadi lebih rentan terbakar. Persoalan semakin kompleks ketika kawasan gambut kehilangan air akibat pengelolaan yang tidak tepat.

Adi menyebut, berdasarkan kompilasi data yang dihimpun pihaknya, terdapat ribuan titik panas di Sumatera Selatan sejak periode berkurangnya curah hujan. Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin, Muara Enim, Banyuasin dan PALI menjadi sejumlah wilayah yang tercatat memiliki titik panas cukup tinggi.

Namun, persoalan karhutla tidak semata-mata berada di kawasan gambut. “Dari 2.536 hotspot ini, yang berada di kawasan kesatuan hidrologis gambut baru sekitar 23 persen. Artinya 77 persen berada di lahan mineral,” ujarnya.

Baca juga :   Penurunan Signifikan Jumlah Hotspot di Sumsel Setelah Hujan

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa faktor manusia dalam pengelolaan lahan juga menjadi bagian penting dalam melihat persoalan karhutla.

Sementara itu, Krisna menjelaskan bahwa perubahan iklim telah ditandai dengan sejumlah perubahan ekologis, termasuk peningkatan suhu dan pergeseran pola musim.

Menurut dia, peningkatan suhu akan memengaruhi siklus air, vegetasi hingga ketersediaan cadangan air. Ketika kondisi tersebut diperparah dengan aktivitas manusia, risiko terjadinya kebakaran menjadi semakin besar.

Baca juga :   Ahli KLHK: Kebakaran Lahan Gambut oleh PT BHP Sebabkan Kerusakan Ekologis Serius


“Dengan kondisi musim yang kering, lahan menjadi lebih rentan terhadap kebakaran. Tetapi lahan tidak mungkin terbakar dengan sendirinya, pasti ada sumber api,” katanya.

Sumatera Selatan, lanjut Krisna, memiliki kerentanan tersendiri karena sekitar 24 persen wilayahnya merupakan lahan gambut. Sebagian kawasan gambut tersebut telah mengalami kerusakan akibat alih fungsi lahan maupun kebakaran.

Gambut yang mengalami pengeringan menjadi sangat rentan terbakar. Berbeda dengan kebakaran di permukaan tanah, api di kawasan gambut dapat menjalar hingga ke lapisan bawah sehingga jauh lebih sulit dipadamkan.

Baca juga :   Ngamen di Jalan Demi Anak, Pinkan Mambo Kejar Biaya Sekolah hingga Rp100 Juta

Kondisi tersebut juga menciptakan persoalan berulang. Ketika gambut rusak dan terbakar, vegetasi yang tumbuh kembali belum tentu mengembalikan fungsi ekologis seperti kondisi awal. Pada saat yang sama, kebakaran kembali menghasilkan emisi gas rumah kaca yang semakin memperburuk persoalan perubahan iklim.

Karena itu, kedua narasumber menilai penanganan karhutla tidak cukup hanya berorientasi pada pemadaman ketika api sudah muncul.

Pencegahan harus dimulai dengan membangun ketahanan lanskap sebelum musim kemarau tiba. Khusus kawasan gambut, pengelolaan air menjadi salah satu kunci utama.

Baca juga :   Berikut Tiga Nama Usulan Pj Bupati Muara Enim

Lantas, seberapa besar perubahan iklim memengaruhi karhutla? Mengapa sebagian besar titik panas justru berada di lahan mineral? Dan apa yang harus dilakukan untuk mencegah bencana asap kembali berulang?

Simak pembahasan lengkapnya dalam Podcast Ruang Redaksi di channel Youtube @relungmedia yang tayang pada, Sabtu (5/9/2025). (KPB)

HAKI Hutan Kita Institute Karhutla perubahan iklim Podcast Ruang Redaksi Stiper Sriwigama
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleViral Video Keluarga Sebut Istri Polisi Pernah “Dijual” ke Wakapolda, Begini Penjelasan Polda Sumut 
Next Article Super Garuda Shield 2026, Black Hawk Dikerahkan Evakuasi Prajurit Terluka
ADMIN

Related Posts

Regional

Mutasi Polri, Brigjen Irwansyah Kini Dipercaya Jadi Wakapolda Sumsel

11/10/20268 Views
Regional

Kabut Asap Selimuti Pagar Alam, Kualitas Udara Masuk Kategori Tidak Sehat

11/10/20263 Views
Regional

Polri Mutasi 199 Personel, Jabatan Kakorlantas dan Tiga Kapolda Berganti

11/10/20268 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,959 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,829 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,801 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?