RELUNG.ID- Gempa bumi bermagnitudo 7,4 yang disertai tsunami mengguncang Palu, Sulawesi Tengah, pada 28 September 2018. Bencana tersebut menghancurkan ribuan bangunan dan menelan banyak korban jiwa.
Sejumlah korban juga dinyatakan hilang setelah tertimbun reruntuhan atau terseret gelombang tsunami.
Di tengah upaya pencarian korban yang berlangsung berbulan-bulan, sebagian keluarga akhirnya mengikhlaskan kepergian anggota keluarganya yang tak kunjung ditemukan.
Namun, delapan tahun setelah bencana tersebut, kisah tak terduga datang dari Jumaidin, pemuda asal Desa Bongka Makmur, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah. Pria yang kini berusia 26 tahun itu kembali ke kampung halaman setelah bertahun-tahun dianggap telah meninggal dunia.
Saat gempa mengguncang Palu pada 2018, Jumaidin sedang menjalani magang di sebuah pabrik pencetakan galon. Ia terjebak di dalam gudang yang roboh dan mengalami luka berat di bagian kepala hingga tak sadarkan diri.
Dalam kondisi kritis, ia dievakuasi oleh rekan kerja dan mantan bosnya ke Morowali untuk mendapatkan perawatan medis. Cedera kepala yang dialaminya membuat Jumaidin mengalami koma selama satu bulan. Setelah sadar, ia kehilangan ingatan tentang identitas dan kehidupan masa lalunya.
Tanpa mengetahui nama asli maupun asal-usulnya, Jumaidin menjalani kehidupan baru dengan identitas Muhammad Zain. Dengan bantuan warga setempat di Morowali, ia mendapatkan kartu tanda penduduk (KTP) baru dan melanjutkan kehidupannya tanpa mengingat keluarga serta kampung halaman.
Selama bertahun-tahun, ia bekerja dan menjalani aktivitas sehari-hari dengan identitas tersebut. Ingatannya mulai pulih secara bertahap pada 2025 setelah melihat petunjuk lokasi melalui peta dan menemukan informasi di media sosial.
Dengan bantuan rekan kerjanya, Jumaidin kemudian mencocokkan informasi mengenai desa kelahirannya. Setelah merasa menemukan petunjuk yang tepat, ia memberanikan diri pulang untuk mencari keluarganya.
Kepulangannya menjadi kejutan besar bagi keluarga dan warga desa. Pasalnya, keluarga sempat menggelar tahlilan selama 40 hari untuk mendoakan Jumaidin yang diyakini telah meninggal dunia.
Kakak kandung Jumaidin, Mahania atau Bu Nia, menceritakan momen haru ketika adiknya tiba di depan pintu rumah mereka. Ia mengaku sempat terkejut ketika pria tersebut memperkenalkan diri sebagai Jumaidin.
“Saya buka pintu sebelah, dia bilang, ‘Cari siapa?’ Saya bilang begitu. Saya jawab dulu salamnya, ‘Wa’alaikumussalam, mau cari siapa?’ saya bilang. ‘Saya ini Jumaidin,’ dia bilang begitu,” ujar Mahania, menirukan percakapan saat pertemuan tersebut.
Mahania mengungkapkan, keluarga sempat sulit mempercayai kepulangan Jumaidin karena surat keterangan dan akta kematian telah diterbitkan oleh pihak berwenang pada 2018.
“Waktu itu kami belum ikhlas mau mengikhlaskan adik kami ini pergi karena kami belum lihat jasadnya, jadinya belum 100 persen.”
“Tapi bertahun-tahun, kami pikir Allah sudah panggil dia,” lanjutnya, dikutip dari program Saksi Kata di kanal YouTube Tribunnews.com.
Di balik kebahagiaan bertemu kembali dengan keluarga, Jumaidin harus menerima kenyataan pahit bahwa ayahnya telah meninggal dunia pada 2023. Ia pun menangis saat mendatangi makam sang ayah karena tak sempat bertemu kembali sebelum kepergiannya.
Meski kehilangan kesempatan untuk bertemu sang ayah, keluarga tetap bersyukur atas kepulangan Jumaidin setelah bertahun-tahun terpisah. Kisah tersebut menjadi momen haru bagi keluarga yang sempat meyakini telah kehilangan dirinya untuk selamanya.[YKP]

