RELUNG.ID– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Sumatera Selatan, masih menjadi perhatian serius. Berdasarkan pembaruan data Oktober 2026, tercatat 340 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 799,16 hektare.
Wakil Bupati Muba Abdur Rohman Husen menyampaikan data tersebut saat mengikuti rapat terbatas bersama Presiden RI secara daring terkait penanganan karhutla di Sumatera Selatan. Rapat berlangsung di Griya Agung, Palembang, Senin (12/10/2026).
Abdur Rohman mengatakan, Kecamatan Bayung Lencir menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) tertinggi, yakni 622 titik. Disusul Kecamatan Lais sebanyak 429 titik, Batang Hari Leko 362 titik, Tungkal Jaya 337 titik, dan Sekayu 323 titik.
Salah satu wilayah yang masih membutuhkan penanganan intensif adalah Desa Muara Medak, Kecamatan Bayung Lencir. Berdasarkan pembaruan kondisi lapangan, terdapat empat lokasi yang masih menjadi titik penanganan aktif.
“Luas area terdampak di wilayah tersebut diperkirakan mencapai 300 hektare dengan kondisi lahan gambut setebal 1–8 meter,” ujar Abdur Rohman.
Menurutnya, karakteristik lahan gambut menjadi tantangan dalam pemadaman karena api dapat menjalar di bawah permukaan tanah. Kondisi ini membuat proses pemadaman dan pendinginan harus dilakukan secara berkelanjutan.
Penanganan karhutla dilakukan melalui kerja sama lintas sektor dengan melibatkan BPBD, TNI, Polri, pemadam kebakaran, Manggala Agni, masyarakat peduli api (MPA), serta unsur perusahaan.
Tim gabungan juga disebar ke sejumlah lokasi agar penanganan lebih efektif. Sementara itu, Posko Induk Sekayu dan 14 posko kecamatan difungsikan untuk memperkuat koordinasi penanggulangan karhutla di Muba.
Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan, wilayahnya masih menjadi perhatian dalam penanganan karhutla, terutama karena asap yang belum sepenuhnya teratasi.
Menurut Deru, luas lahan yang masih terbakar di Sumsel saat ini tersisa sekitar 6,9 hektare, terutama di Muara Medak, Muba, dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
“Saat ini asap dari karhutla yang masih sulit diatasi, namun untuk karhutla di Sumsel tinggal 6,9 hektare lagi, yakni di Muara Medak Muba dan OKI,” katanya.
Deru menambahkan, Pemprov Sumsel akan memaksimalkan koordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait rencana penerapan teknologi dry ice untuk menekan asap akibat karhutla.
Sementara itu, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menegaskan, penanganan karhutla terus dilakukan dengan mengerahkan seluruh kemampuan dan sumber daya yang tersedia.
Operasi pemadaman di Sumsel dan Kalimantan Tengah saat ini masih mengandalkan upaya darat. Rendahnya jarak pandang dalam beberapa hari terakhir membatasi pelaksanaan pemadaman melalui udara atau water bombing.
Meski demikian, BNPB terus mengoptimalkan berbagai langkah, termasuk Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Berdasarkan informasi BMKG mulai 11 Oktober 2026, terdapat pertumbuhan awan hujan yang berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung operasi tersebut.
“Seluruh upaya akan terus kita maksimalkan. Penanganan karhutla dilakukan dengan mengerahkan segala kemampuan hingga datangnya musim hujan alami,” ujar Suharyanto.
BNPB memprediksi musim hujan alami di Kalimantan Tengah mulai berlangsung pada dasarian II Oktober, yakni 11–20 Oktober 2026. Sementara itu, Sumsel diperkirakan memasuki musim hujan pada dasarian III Oktober, atau 21–30 Oktober 2026.
Dalam rapat tersebut, Wakil Bupati Muba turut didampingi Dandim 0401 Muba Letkol Inf Dimas Kurniawan, Wakapolres Muba Kompol Helmi Ardiansah, serta Kepala BPBD Muba Marko Susanto.[YKP]

