RELUNG.ID – Keterbatasan ekonomi tak menghalangi Kang Hertigol, atau Kang Herti, untuk berbuat sesuatu bagi anak-anak.
Di tengah kesibukannya mencari nafkah, pria asal Kampung Bewak, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, memilih meluangkan waktu untuk mengedukasi anak-anak tentang bahaya perundungan atau bullying.
Kepeduliannya bermula dari kegelisahan melihat maraknya kasus perundungan terhadap anak yang beredar di media sosial.
“Saya sangat miris, sedih serta prihatin melihat di media sosial kejadian bullying terhadap anak di Indonesia,” kata Kang Hertigol.
Kegelisahan tersebut tidak berhenti menjadi keprihatinan. Ia kemudian memilih bergerak dari lingkungan terdekat dengan menggelar kelas edukasi anti-bullying secara gratis setiap dua minggu sekali.
Cara yang digunakan pun dibuat sedekat mungkin dengan dunia anak. Kang Hertigol tidak ingin memberikan edukasi dengan cara yang kaku. Anak-anak diajak belajar melalui interaksi, permainan, seni hingga olahraga.
Sebelum kegiatan dimulai, ia juga memastikan mendapat izin dari orang tua anak-anak yang akan mengikuti kegiatan.
“Sebelum saya mengajak anak-anak, saya juga selalu meminta izin dahulu kepada orang tuanya. Bahkan, saya juga kerap membelikan jajanan kepada anak agar mereka mau ikut edukasi ini,” ujarnya.
Bagi Kang Hertigol, kampanye anti-bullying bukan sekadar upaya mencegah kekerasan terhadap anak. Ia ingin menciptakan lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk berkembang dan mengejar prestasi.
Menurutnya, anak-anak Indonesia memiliki potensi besar. Berbagai prestasi telah ditorehkan di tingkat internasional dan hal tersebut harus terus dipertahankan.
“Sumber daya manusia khususnya di bidang pendidikan Indonesia ini hebat. Banyak prestasi yang diraih anak-anak di kancah internasional,” katanya.
Karena itu, ia ingin gerakan anti-bullying terus digaungkan agar anak-anak dapat tumbuh tanpa rasa takut dan memiliki kesempatan mengembangkan potensi mereka.
“Saya ingin prestasi ini terus dipertahankan dan terus mengkampanyekan anti bully sehingga prestasi anak bisa bersaing internasional,” lanjutnya.
Di balik kegiatan sosial tersebut, Kang Hertigol tidak memiliki sumber pendanaan besar. Sebagian kebutuhan kegiatan justru berasal dari penghasilannya sendiri.
Sehari-hari, ia bekerja sebagai tukang sapu jalanan dan marbot masjid. Untuk menambah pemasukan, ia juga mengambil pekerjaan sebagai komentator pertandingan sepak bola anak-anak hingga menjadi pembawa acara dalam berbagai kegiatan dan hajatan di kampungnya.
Dari penghasilan tersebut, ia menyisihkan sebagian untuk memenuhi kebutuhan anak-anak yang mengikuti kegiatan edukasi.
“Uang inilah sebagian disisihkan untuk kebutuhan anak-anak, mulai dari uang jajan, alat tulis hingga makanan ringan untuk kegiatan edukasi,” tuturnya.
Bagi Kang Hertigol, berbuat baik tidak harus menunggu memiliki banyak uang. Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah kemauan untuk hadir dan konsisten memberikan perhatian kepada anak-anak.
Ia percaya, kepedulian yang dilakukan secara sederhana namun terus-menerus dapat memberikan dampak bagi lingkungan.
“Pesan saya jangan hanya menjadi penonton ketika melihat perundungan. Jika mampu, hadir, dengarkan, dan lakukan sesuatu untuk menghentikannya,” pungkasnya. (LWM)

