RELUNG.ID – Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan II 2026 kembali mencatat angka positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 5,20 persen secara tahunan atau year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.
Angka tersebut tentu menjadi kabar baik. Ekonomi tumbuh, aktivitas usaha bergerak dan hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif.
Namun, di balik angka 5,20 persen itu muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, atau manfaatnya masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu?
Sebab di lapangan, gambaran yang muncul tidak selalu sejalan dengan angka pertumbuhan ekonomi. Penjualan kendaraan masih tinggi.
Pusat perdagangan tetap ramai. Sejumlah sektor usaha tumbuh cukup kuat. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat masih mengeluhkan harga kebutuhan pokok, pendapatan yang tidak banyak berubah dan biaya hidup yang semakin besar. Dengan kata lain, tumbuhnya ekonomi ini tidak dirasakan oleh semua masyarakat.
Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp199,05 triliun. Sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp105,44 triliun.
“Pertumbuhan ekonomi Sumsel secara year on year mencapai 5,20 persen, sedangkan secara quarter to quarter tumbuh 4,51 persen,” ujarnya di Palembang, Kamis (14/8/2026).
Seluruh 17 lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif. Sektor jasa pendidikan menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 9,81 persen. Kemudian perdagangan sebesar 8,71 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,07 persen.
Namun, struktur ekonomi Sumsel masih cukup bergantung pada sejumlah sektor utama. Pertambangan memberikan kontribusi 23,86 persen, industri pengolahan 18,56 persen dan perdagangan 14,56 persen. Jika digabungkan, ketiga sektor tersebut menyumbang sekitar 56 persen terhadap total perekonomian Sumsel.
Dari sisi sumber pertumbuhan, perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,04 persen.
Sementara konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi mencapai 60,14 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,97 persen. Namun ekspor luar negeri justru masih mengalami kontraksi sebesar 4,45 persen.
Angka-angka tersebut menunjukkan ekonomi Sumsel bergerak. Persoalannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.
Penjualan Mobil Naik, 50 Unit Terjual Dalam Tiga Hari
Salah satu gambaran aktivitas ekonomi terlihat dari pasar otomotif. Pameran Toyota Space 2026 di Atrium Palembang Trade Center (PTC) Mall mencatat 50 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) hanya dalam tiga hari sejak Senin (10/8/2026).
Angka tersebut sudah mencapai sekitar dua pertiga dari target 75 unit selama pameran berlangsung.
Supervisor Auto2000 Plaju, David Sibarani, mengatakan minat masyarakat terhadap kendaraan masih cukup tinggi. “Sudah tercatat 50 SPK dari target 75 unit.
Ini menunjukkan pasar otomotif Sumsel masih memiliki potensi yang baik,” katanya. Menurut David, konsumen saat ini semakin rasional dalam membeli kendaraan.
Pertimbangan tidak hanya soal harga, tetapi juga efisiensi bahan bakar, biaya operasional, program pembiayaan hingga manfaat kendaraan dalam jangka panjang.
“Kendaraan hybrid bahkan mulai mendapat perhatian lebih besar, meski kendaraan konvensional masih mendominasi pilihan masyarakat,” singkatnya.
Data tersebut menunjukkan masih ada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan membeli kendaraan baru, bahkan ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi berbagai tekanan. Tetapi gambaran tersebut belum tentu mewakili seluruh masyarakat Sumsel.

Harga Sembako Naik, Belanja Harian Mulai Dibatasi
Di tengah meningkatnya transaksi kendaraan, keluhan mengenai biaya hidup justru masih terdengar dari masyarakat.
Harry Candra Kastama, seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), mengaku belum merasakan langsung dampak pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari justru lebih terasa dibandingkan peningkatan pendapatan.
“Beban hidup yang kami rasakan saat ini meningkat, sementara kesejahteraan belum mengalami perubahan signifikan,” katanya.
Harry mengatakan kebutuhan sehari-hari masih harus dipenuhi dari gaji. Sementara Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) hingga kini belum diterima PPPK.
Padahal, menurutnya, tunjangan tersebut sangat membantu menghadapi kenaikan biaya hidup. Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan perlakuan yang lebih setara antara PPPK dan PNS, khususnya dalam persoalan TPP.
“Kalau sama-sama berstatus ASN, seharusnya hak PPPK juga disamakan dengan PNS. TPP sangat dibutuhkan karena kebutuhan hidup terus naik,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Andre Sheva, pengemudi ojek online. Ia mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti ayam dan telur, terus mengalami kenaikan.
Sementara pendapatan yang diperoleh tidak mengalami peningkatan yang sebanding. Menurutnya, persoalan bukan hanya harga sembako. Antrean panjang BBM bersubsidi hingga kenaikan harga kendaraan juga ikut menambah beban masyarakat.
“Perasaan sembako makin mahal, sementara kenaikan gaji tidak sebanding. Dulu beli motor sekitar Rp12 juta, sekarang motor yang setara sudah mencapai Rp20 juta,” ujarnya.
Bagi masyarakat seperti Andre, angka pertumbuhan ekonomi 5,20 persen belum otomatis berarti daya beli mereka ikut meningkat.

Pertumbuhan Ada, Tapi Belum Semua Menikmatinya
Perbedaan antara angka pertumbuhan ekonomi dan pengalaman masyarakat sehari-hari inilah yang kemudian menjadi persoalan.
Di satu sisi, data menunjukkan ekonomi Sumsel tumbuh cukup kuat. Namun di sisi lain, masih ada masyarakat yang harus mengatur ulang belanja karena pendapatan tidak bertambah secepat kenaikan biaya hidup.
Dewan Pakar KAHMI Kota Lubuklinggau sekaligus akademisi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah STAI Bumi Silampari, Supriadi, mengatakan pertumbuhan ekonomi Sumsel memang menunjukkan arah positif. Namun, menurutnya, manfaat pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata.
“Pertumbuhan ekonomi Sumsel memang menunjukkan arah yang positif. Namun, manfaatnya belum sepenuhnya dinikmati secara merata,” katanya.
Menurut Supriadi, kelompok pekerja informal, buruh, petani kecil hingga masyarakat pedesaan masih menjadi kelompok yang rentan terhadap tekanan ekonomi. Mereka tidak selalu menikmati kenaikan aktivitas ekonomi sebagaimana kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan lebih tinggi.
Di sinilah persoalannya. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berbicara tentang seberapa besar angka PDRB bertambah, tetapi juga tentang apakah pertumbuhan tersebut mampu mengangkat pendapatan masyarakat.
Angka kemiskinan dan pengangguran memang menunjukkan tren membaik. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat telah menikmati hasil pertumbuhan ekonomi.
Sebab masyarakat akan melihat pertumbuhan ekonomi dari hal yang jauh lebih sederhana: apakah pendapatan mereka bertambah, apakah harga kebutuhan masih terjangkau, apakah usaha mereka berkembang dan apakah kehidupan keluarga menjadi lebih baik.
“Keberhasilan ekonomi ketika semakin sedikit masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, semakin banyak UMKM berkembang, petani memperoleh pendapatan yang lebih baik, dan semakin banyak masyarakat yang naik kelas secara ekonomi,” pungkasnya. (CKM/NSR)

![[Laporan Khusus] Ekonomi Tumbuh, Warga Tetap Mengeluh: Siapa yang Benar-Benar Menikmati?](https://relung.id/wp-content/uploads/2026/08/Pameran-Mobil-di-PTC-Mall-1024x697.jpg)