Close Menu
relung.idrelung.id
  • Relung Community
  • Indeks
  • Regional
  • Hukum
  • Politik
  • Bola
  • Bisnis
  • Techno
  • Otomotif
  • Video
  • Liputan Khusus
  • Even
  • Advertorial
  • Karir

Subscribe to Updates

Get the latest creative news from FooBar about art, design and business.

What's Hot

UIN Raden Fatah Palembang Resmi Buka Prodi Kedokteran, Jadwal Penerimaan Mahasiswa Belum Diumumkan

10/10/2026

Diduga Jadi Sarang Narkoba, Dua Perkampungan di Palembang Digerebek Polisi

10/10/2026

Tak Ada Penerbangan ke Palembang, Percuma Status Bandara Internasional

10/10/2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
relung.idrelung.id Saturday, 10 October 2026
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
Login
  • Indeks
  • Regional
  • Politik
  • Hukum
  • Liputan Khusus
  • Bisnis
  • Lifestyle
  • Bola
  • Techno
  • Otomotif
  • Advertorial
  • Video
relung.idrelung.id
Home»Indeks»Liputan Khusus»[Laporan Khusus] Ekonomi Tumbuh, Warga Tetap Mengeluh: Siapa yang Benar-Benar Menikmati?
Liputan Khusus

[Laporan Khusus] Ekonomi Tumbuh, Warga Tetap Mengeluh: Siapa yang Benar-Benar Menikmati?

alwiBy alwi14/08/2026
Share Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Reddit Telegram Email
Pameran mobil Toyota Space 2026 di PTC Mall. (Istimewa)
Share
Facebook Twitter LinkedIn Pinterest Email

RELUNG.ID – Pertumbuhan ekonomi Sumsel pada triwulan II 2026 kembali mencatat angka positif. Badan Pusat Statistik (BPS) Sumsel mencatat ekonomi daerah ini tumbuh 5,20 persen secara tahunan atau year on year (YoY), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional.

Angka tersebut tentu menjadi kabar baik. Ekonomi tumbuh, aktivitas usaha bergerak dan hampir seluruh sektor mencatat pertumbuhan positif.

Namun, di balik angka 5,20 persen itu muncul pertanyaan yang tidak kalah penting. Apakah pertumbuhan ekonomi tersebut benar-benar dirasakan masyarakat, atau manfaatnya masih terkonsentrasi pada kelompok tertentu?

Baca juga :   Harga Kebutuhan Pokok di Pasar Palembang Masih Fluktuatif

Sebab di lapangan, gambaran yang muncul tidak selalu sejalan dengan angka pertumbuhan ekonomi. Penjualan kendaraan masih tinggi.

Pusat perdagangan tetap ramai. Sejumlah sektor usaha tumbuh cukup kuat. Tetapi pada saat yang sama, masyarakat masih mengeluhkan harga kebutuhan pokok, pendapatan yang tidak banyak berubah dan biaya hidup yang semakin besar. Dengan kata lain, tumbuhnya ekonomi ini tidak dirasakan oleh semua masyarakat.

Kepala BPS Sumsel Moh Wahyu Yulianto mengatakan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sumsel atas dasar harga berlaku pada triwulan II 2026 mencapai Rp199,05 triliun. Sementara atas dasar harga konstan mencapai Rp105,44 triliun.

Baca juga :   Deretan Pelanggaran Lingkungan Tambang PT MIP di Lahat, PPA Dinilai Harus Ikut Bertanggung Jawab

“Pertumbuhan ekonomi Sumsel secara year on year mencapai 5,20 persen, sedangkan secara quarter to quarter tumbuh 4,51 persen,” ujarnya di Palembang, Kamis (14/8/2026).

Seluruh 17 lapangan usaha mengalami pertumbuhan positif. Sektor jasa pendidikan menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 9,81 persen. Kemudian perdagangan sebesar 8,71 persen serta penyediaan akomodasi dan makan minum sebesar 8,07 persen.

Namun, struktur ekonomi Sumsel masih cukup bergantung pada sejumlah sektor utama. Pertambangan memberikan kontribusi 23,86 persen, industri pengolahan 18,56 persen dan perdagangan 14,56 persen. Jika digabungkan, ketiga sektor tersebut menyumbang sekitar 56 persen terhadap total perekonomian Sumsel.

Baca juga :   BPS: 28 Ribu Warga Sumsel Keluar dari Garis Kemiskinan

Dari sisi sumber pertumbuhan, perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi mobil dan sepeda motor, menjadi penyumbang terbesar dengan andil 1,04 persen.

Sementara konsumsi rumah tangga masih menjadi motor utama perekonomian dengan kontribusi mencapai 60,14 persen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,97 persen. Namun ekspor luar negeri justru masih mengalami kontraksi sebesar 4,45 persen.

Angka-angka tersebut menunjukkan ekonomi Sumsel bergerak. Persoalannya adalah bagaimana pertumbuhan tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan pendapatan dan daya beli masyarakat.

Baca juga :   Tambang Tembaga di Zambia Berpotensi Jadi yang Terbesar Ketiga di Dunia

Penjualan Mobil Naik, 50 Unit Terjual Dalam Tiga Hari

Salah satu gambaran aktivitas ekonomi terlihat dari pasar otomotif. Pameran Toyota Space 2026 di Atrium Palembang Trade Center (PTC) Mall mencatat 50 Surat Pemesanan Kendaraan (SPK) hanya dalam tiga hari sejak Senin (10/8/2026).

Angka tersebut sudah mencapai sekitar dua pertiga dari target 75 unit selama pameran berlangsung.

Supervisor Auto2000 Plaju, David Sibarani, mengatakan minat masyarakat terhadap kendaraan masih cukup tinggi. “Sudah tercatat 50 SPK dari target 75 unit.

Baca juga :   Wawako Palembang Pastikan Harga Sembako Stabil, Mulai Gelar Pasar Murah di Pasar Plaju

Ini menunjukkan pasar otomotif Sumsel masih memiliki potensi yang baik,” katanya. Menurut David, konsumen saat ini semakin rasional dalam membeli kendaraan.

Pertimbangan tidak hanya soal harga, tetapi juga efisiensi bahan bakar, biaya operasional, program pembiayaan hingga manfaat kendaraan dalam jangka panjang.

“Kendaraan hybrid bahkan mulai mendapat perhatian lebih besar, meski kendaraan konvensional masih mendominasi pilihan masyarakat,” singkatnya.

Baca juga :   Menapak Jejak Dugaan Pencemaran Sungai Penimur Akibat Aktivitas Pertambangan [BAGIAN KEENAM]

Data tersebut menunjukkan masih ada kelompok masyarakat yang memiliki kemampuan membeli kendaraan baru, bahkan ketika kondisi ekonomi sedang menghadapi berbagai tekanan. Tetapi gambaran tersebut belum tentu mewakili seluruh masyarakat Sumsel.

Aktivitas pasar di Sumsel. (Noviansyah/Relung)

Harga Sembako Naik, Belanja Harian Mulai Dibatasi

Di tengah meningkatnya transaksi kendaraan, keluhan mengenai biaya hidup justru masih terdengar dari masyarakat.

Harry Candra Kastama, seorang Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), mengaku belum merasakan langsung dampak pertumbuhan ekonomi tersebut. Menurutnya, kenaikan harga kebutuhan sehari-hari justru lebih terasa dibandingkan peningkatan pendapatan.

“Beban hidup yang kami rasakan saat ini meningkat, sementara kesejahteraan belum mengalami perubahan signifikan,” katanya.

Baca juga :   Kaleidoskop Februari 2025: Dari Sidang Narkoba Chairil Ubaidi hingga Live Action Demon City

Harry mengatakan kebutuhan sehari-hari masih harus dipenuhi dari gaji. Sementara Tambahan Penghasilan Pegawai (TPP) hingga kini belum diterima PPPK.

Padahal, menurutnya, tunjangan tersebut sangat membantu menghadapi kenaikan biaya hidup. Karena itu, ia berharap pemerintah memberikan perlakuan yang lebih setara antara PPPK dan PNS, khususnya dalam persoalan TPP.

“Kalau sama-sama berstatus ASN, seharusnya hak PPPK juga disamakan dengan PNS. TPP sangat dibutuhkan karena kebutuhan hidup terus naik,” katanya.

Baca juga :   Cabai, Ayam, dan Telur Kompak Naik di Palembang

Keluhan serupa disampaikan Andre Sheva, pengemudi ojek online. Ia mengatakan harga sejumlah kebutuhan pokok, seperti ayam dan telur, terus mengalami kenaikan.

Sementara pendapatan yang diperoleh tidak mengalami peningkatan yang sebanding. Menurutnya, persoalan bukan hanya harga sembako. Antrean panjang BBM bersubsidi hingga kenaikan harga kendaraan juga ikut menambah beban masyarakat.

“Perasaan sembako makin mahal, sementara kenaikan gaji tidak sebanding. Dulu beli motor sekitar Rp12 juta, sekarang motor yang setara sudah mencapai Rp20 juta,” ujarnya.

Baca juga :   Pasca Insiden Bangko Barat, Kepala BNNP Sumsel: Kawasan Tambang Harus Bebas Narkoba!

Bagi masyarakat seperti Andre, angka pertumbuhan ekonomi 5,20 persen belum otomatis berarti daya beli mereka ikut meningkat.

Pengemis dengan menggunakan badut. (Dok Relung)

Pertumbuhan Ada, Tapi Belum Semua Menikmatinya

Perbedaan antara angka pertumbuhan ekonomi dan pengalaman masyarakat sehari-hari inilah yang kemudian menjadi persoalan.

Di satu sisi, data menunjukkan ekonomi Sumsel tumbuh cukup kuat. Namun di sisi lain, masih ada masyarakat yang harus mengatur ulang belanja karena pendapatan tidak bertambah secepat kenaikan biaya hidup.

Dewan Pakar KAHMI Kota Lubuklinggau sekaligus akademisi Program Studi Manajemen Bisnis Syariah STAI Bumi Silampari, Supriadi, mengatakan pertumbuhan ekonomi Sumsel memang menunjukkan arah positif. Namun, menurutnya, manfaat pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata.

Baca juga :   BPS Sumsel Akui DTSEN Belum Sempurna, 2.170 Data Masyarakat Belum Ditemukan di Sensus Ekonomi

“Pertumbuhan ekonomi Sumsel memang menunjukkan arah yang positif. Namun, manfaatnya belum sepenuhnya dinikmati secara merata,” katanya.

Menurut Supriadi, kelompok pekerja informal, buruh, petani kecil hingga masyarakat pedesaan masih menjadi kelompok yang rentan terhadap tekanan ekonomi. Mereka tidak selalu menikmati kenaikan aktivitas ekonomi sebagaimana kelompok masyarakat yang memiliki pendapatan lebih tinggi.

Di sinilah persoalannya. Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berbicara tentang seberapa besar angka PDRB bertambah, tetapi juga tentang apakah pertumbuhan tersebut mampu mengangkat pendapatan masyarakat.

Baca juga :   [Laporan Khusus] KRI Sriwijaya-100, Menjaga Nama Besar Sejarah yang Kembali Berlayar di Laut Nusantara

Angka kemiskinan dan pengangguran memang menunjukkan tren membaik. Namun, kondisi tersebut belum cukup untuk memastikan bahwa seluruh lapisan masyarakat telah menikmati hasil pertumbuhan ekonomi.

Sebab masyarakat akan melihat pertumbuhan ekonomi dari hal yang jauh lebih sederhana: apakah pendapatan mereka bertambah, apakah harga kebutuhan masih terjangkau, apakah usaha mereka berkembang dan apakah kehidupan keluarga menjadi lebih baik.

“Keberhasilan ekonomi ketika semakin sedikit masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, semakin banyak UMKM berkembang, petani memperoleh pendapatan yang lebih baik, dan semakin banyak masyarakat yang naik kelas secara ekonomi,” pungkasnya. (CKM/NSR)

BPS Sumsel Harga Sembako Pakar KAHMI Lubuklinggau Pertumbuhan ekonomi di Sumsel STAI Bumi Silampari Toyota Space 2026
Share. Facebook Twitter Pinterest LinkedIn Tumblr Email
Previous ArticleDukung Pengembangan AI Siri, Apple Siapkan Skema Pembayaran untuk Penerbit Media
Next Article Polisi di Buton Ditahan, Diduga Lakukan Kekerasan Seksual Dua Kali
alwi

Related Posts

Regional

Era Digital Bawa Pempek Sumsel Menembus Pasar Dunia

07/10/20269 Views
Liputan Khusus

Medan Karhutla Sumsel Makin Sulit Dijangkau, Motor Trail Pemadam Mau Digas ke Mana?

05/10/202612 Views
Liputan Khusus

[Laporan Khusus] KRI Sriwijaya-100, Menjaga Nama Besar Sejarah yang Kembali Berlayar di Laut Nusantara

01/10/202624 Views
Add A Comment

Leave A Reply Cancel Reply

Demo
Top Posts

Olahraga Berbahaya! Ini Manfaat Parkour untuk Kesehatan Tubuh

09/10/202328,844 Views

Hukum dan Keutamaan Puasa Syawal

11/04/202428,719 Views

Daerah Kelimpungan Hadapi Pemangkasan TKD, Menkeu Purbaya Tegaskan Disiplin Fiskal Tak Bisa Dilanggar

08/10/202522,690 Views

Keajaiban Tersembunyi di Talang Sarang Bulan: Curup Ayek Bayau

21/07/20244,403 Views

Tabrak Ambulans Bawa Pasien, Kuasa Hukum RSUD Bayung Lencir Soroti Pemilik Truk Tangki

02/06/20251,359 Views
Stay In Touch
  • Facebook
  • YouTube
  • TikTok
  • WhatsApp
  • Twitter
  • Instagram

Subscribe to Updates

Get the latest tech news from FooBar about tech, design and biz.

Demo
Facebook X (Twitter) Instagram YouTube TikTok
  • Tentang Kami
  • Info Kontak
  • Info Kerjasama
  • Karir
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
© 2026

Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.

Sign In or Register

Welcome Back!

Login to your account below.

Lost password?