RELUNG.ID – Nama Sriwijaya kembali berlayar di perairan Nusantara. Kali ini bukan melalui prasasti, catatan perjalanan atau tinggalan arkeologi, melainkan melalui sebuah kapal perang yang menjadi bagian dari kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL).
Nama kerajaan maritim yang pernah berkembang di kawasan Sumatera dan memiliki pengaruh luas di Asia Tenggara itu kini disematkan pada bekas kapal perang Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, yang berganti nama menjadi KRI Sriwijaya-100.
Dengan bobot perpindahan sekitar 13.850 ton, kapal tersebut kini berada di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Kehadirannya menambah kemampuan armada TNI AL, khususnya untuk mendukung operasi di wilayah perairan Indonesia maupun berbagai misi kemaritiman lainnya.

Dari Giuseppe Garibaldi ke Sriwijaya
KRI Sriwijaya bukan kapal yang sejak awal dibangun untuk Indonesia. Sebelum menjadi bagian dari armada TNI AL, kapal tersebut dikenal sebagai ITS Giuseppe Garibaldi, kapal induk ringan milik Angkatan Laut Italia yang dibangun Fincantieri S.p.A.
Kapal ini diluncurkan pada 1983 dan mulai beroperasi pada 1985. Selama lebih dari tiga dekade, Giuseppe Garibaldi menjadi salah satu aset penting Angkatan Laut Italia dan menjalankan berbagai misi internasional.
Kapal tersebut antara lain pernah terlibat dalam operasi yang berkaitan dengan konflik Kosovo, Afghanistan dan Libya. Setelah lebih dari 30 tahun menjalankan tugas, Giuseppe Garibaldi dipensiunkan pada Oktober 2024.
Masa pensiun itu kemudian membuka babak baru dalam perjalanan kapal tersebut. Kapal yang sebelumnya mengibarkan bendera Italia itu kemudian berpindah ke Indonesia dan memperoleh nama baru: KRI Sriwijaya-100.

Kapal Perang dengan Kemampuan Operasi Udara
KRI Sriwijaya memiliki panjang sekitar 180,2 meter dan lebar 33,4 meter. Dengan bobot perpindahan sekitar 13.850 ton, kapal ini termasuk kapal berukuran besar dalam armada TNI AL.
Kapal tersebut menggunakan empat turbin gas FIAT/GE LM-2500 dengan total daya sekitar 60.400 kilowatt. Dengan sistem propulsi tersebut, KRI Sriwijaya memiliki kecepatan maksimum sekitar 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam. Jangkauan operasionalnya mencapai sekitar 7.000 mil laut.
Namun, kemampuan utama kapal ini tidak hanya terletak pada ukuran dan daya jelajahnya.
KRI Sriwijaya memiliki dek penerbangan yang memungkinkan pengoperasian helikopter dalam jumlah besar. Kapal ini dirancang untuk mendukung operasi sekitar 10 hingga 18 helikopter, tergantung konfigurasi dan kebutuhan misi.
Desainnya juga memiliki kemampuan untuk mendukung pengoperasian pesawat dengan karakteristik Short Take-Off and Vertical Landing (STOVL). Dengan kemampuan tersebut, kapal dapat berfungsi sebagai pangkalan udara bergerak di laut sekaligus menjadi bagian dari sistem dukungan operasi udara dalam suatu misi.
Kemampuan seperti ini juga membuka ruang penggunaan kapal dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), seperti bantuan penanggulangan bencana, evakuasi dan misi kemanusiaan.
Sriwijaya dan Jejak Maritim Sumatera
Ada pertimbangan sejarah di balik nama KRI Sriwijaya-100. Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kekuatan maritim penting yang berkembang di kawasan Sumatera sejak sekitar abad ke-7. Posisi geografisnya membuat kawasan ini berada di jalur penting perdagangan dan pelayaran yang menghubungkan Sumatera, Semenanjung Melayu, India hingga Tiongkok.

Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali sebelumnya menjelaskan bahwa nama Sriwijaya dipilih karena memiliki hubungan dengan sejarah panjang kemaritiman Nusantara.
“Nama Sriwijaya dipilih karena memiliki sejarah kemaritiman Nusantara yang sangat panjang,” kata Muhammad Ali.
Nama tersebut juga memiliki hubungan yang kuat dengan Palembang dan Sumatera Selatan, kawasan yang selama ini menjadi salah satu pusat pembahasan mengenai sejarah Sriwijaya.
Kerajaan Sriwijaya tumbuh dalam lingkungan geografis yang sangat dipengaruhi sungai dan laut. Sementara Palembang berada di sekitar jaringan Sungai Musi dan anak-anak sungainya yang terhubung dengan kawasan pesisir. Posisi tersebut menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan aktivitas perdagangan dan pelayaran pada masa Sriwijaya.
Prasasti Kedukan Bukit, yang berasal dari abad ke-7, menjadi salah satu sumber penting untuk memahami sejarah awal Sriwijaya. Prasasti tersebut antara lain mencatat perjalanan Dapunta Hyang yang berkaitan dengan aktivitas di jalur perairan.
Sementara Prasasti Kota Kapur menunjukkan pentingnya Pulau Bangka dalam lingkup kekuasaan Sriwijaya. Sumber sejarah lain juga memberikan gambaran mengenai hubungan Sriwijaya dengan berbagai kawasan di Asia.
Catatan perjalanan pendeta Tiongkok, Yijing, misalnya, memberikan informasi mengenai keberadaan Sriwijaya sebagai salah satu pusat pembelajaran Buddha. Hubungan Sriwijaya dengan India juga tercatat dalam berbagai sumber, termasuk Prasasti Nalanda.
Jejak tersebut menunjukkan bahwa hubungan Sriwijaya dengan dunia luar tidak hanya berlangsung melalui perdagangan. Ada pula pertukaran pengetahuan, agama dan kebudayaan.
Karena itu, Sriwijaya lebih tepat dipahami sebagai bagian dari jaringan maritim yang menghubungkan berbagai wilayah di Asia pada masanya. Kekuatan tersebut bertumpu pada kemampuan memanfaatkan sungai, pelabuhan dan jalur laut sebagai penghubung antara pusat-pusat perdagangan.
Babak Baru Perjalanan Sejarah Sriwijaya di Laut Nusantara
Berabad-abad setelah masa Sriwijaya berlalu, nama tersebut kini kembali berada di laut.
Bedanya, kapal yang membawanya bukan lagi bagian dari jaringan perdagangan kerajaan pada masa lalu. KRI Sriwijaya-100 merupakan kapal perang modern yang memiliki kemampuan operasi udara dan menjadi bagian dari sistem pertahanan laut Indonesia.
Di sinilah pertemuan antara sejarah dan masa kini menjadi menarik. Nama Sriwijaya yang dahulu lekat dengan sungai, pelabuhan dan jalur perdagangan maritim kini kembali digunakan untuk sebuah kapal yang beroperasi di wilayah laut Indonesia.
Bagi Palembang dan Sumatera Selatan, penyematan nama tersebut juga menjadi pengingat bahwa sejarah maritim daerah ini tidak berhenti pada peninggalan masa lalu. Sriwijaya tetap menjadi bagian dari identitas sejarah yang terus dibawa ke masa kini.
Kini, nama itu kembali berlayar. Bukan lagi melalui kapal-kapal yang menyusuri jalur perdagangan Asia berabad-abad silam, tetapi melalui KRI Sriwijaya-100 yang membawa nama tersebut dalam armada TNI AL.

“Penamaan Kapal Induk Perang RI dengan nama Sriwijaya-100 ini jelas berita menggembirakan. Sebab selama ini kapal-kapal perang hanya bernama Pahlawan Nasional, senjata pewayangan atau tradisional,” kata Sejarawan Unsri, Dr Dedi Irwanto MA.
Menurutnya, baru kali ini kapal induk yang mengambil nama Sriwijaya, sebuah kerajaan besar di Palembang yang memiliki kekuatan maritim di dunia.
Sehingga kapal ini merefleksikan bahwa Kerajaan Sriwijaya itu merupakan kekuatan laut Indonesia, baik di masa lalu maupun di masa kini.
“Kapal pusat komando operasi laut dengan dukungan jarak jauh serta juga untuk misi kemanusiaan dan penanggulangan bencana jelas sangat sesuai dengan kehebatan kedatuan Sriwijaya di masa lalu,” jelasnya.
Pemberian nama Sriwijaya untuk KRI TNI AL ini sesuai dengan kebesaran Sriwijaya sebagai sebuah kerajaan di Kota Palembang serta Nusantara.
Selama ini dari sisi temuan kerajaan Sriwijaya dapat disebutkan termuda, dibandingkan kerajaan-kerajaan kuno di Jawa yang memang sudah seumur dengan kerajaan yang diceritakan.
Sriwijaya ditemukan baru tahun 1918 ketika George Coedes menafsirkan Prasasti Kota Kapur serta beririsan dengan sebutan Shih-li-fo-shih dari narasi pendeta I-tsing yang dituliskan kembali oleh Takakusu akhir abad 19.
Walau termuda, dari sisi kelahiran Sriwijaya kerajaan tua dan terbesar di Nusantara. Gambaran kebesaran Sriwijaya, secara politis, dari banyaknya jejak temuan Sriwijaya yang ada di mana-mana.
Mulai dari Jawa, Pulau Sumatera, Semenanjung Malaya, Indocina, hingga daratan India. Bahkan secara ekonomi Sriwijaya mampu membangun hubungan dagang, mulai dari saudagar Cina, India, maupun Arab.
Berbagai temuan mata uang Cina berasal dari periode se-saman mulai Dinasti Song (960-1279 M) sampai Ming (abad 14-17 M) muncul di Kota Palembang mengindikasikan kebesaran dagang Sriwijaya.
Dirinya berharap penamaan kapal induk TNI ini dapat mengangkat kembali nama Sriwijaya, dan ini akan sebanding dengan berbagai upaya untuk menarasikan kembali Sriwijaya.
Karena data tentang Sriwijaya saat ini, tidak banyak berasal dari sumber-sumber baru. Sehingga, narasi tentang Sriwijaya cenderung mengulang narasi yang telah lama ada sebelumnya.
“Dengan penamaan ini maka penelitian, kajian dan studi tentang Sriwijaya, terutama di Kota Palembang akan terus meningkat. Termasuk dari para sejarawan TNI,” tutupnya. (tim)

![[Laporan Khusus] KRI Sriwijaya-100, Menjaga Nama Besar Sejarah yang Kembali Berlayar di Laut Nusantara](https://relung.id/wp-content/uploads/2026/10/KRI-Sriwijaya-K-100-1024x645.jpg)