RELUNG.ID– Suasana siang yang biasanya tenang di Dusun Tebing Tinggi, Lubuk Buntak, Kota Pagaralam, mendadak ramai. Puluhan mahasiswa berseragam jaket kuning turun dari bus dan berjalan menuju kawasan persawahan di ujung dusun, Sabtu (31/10/2026).
Kedatangan rombongan tersebut menarik perhatian warga. Sejumlah ibu-ibu yang sedang duduk di teras rumah menyambut mereka dengan ramah. Sapaan hangat pun mewarnai perjalanan rombongan di tengah suasana pedesaan yang sejuk, pada ketinggian sekitar 800 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Rombongan berjumlah 67 mahasiswa itu kemudian melanjutkan perjalanan menuju area persawahan. Mereka berhenti di dekat dua batu peninggalan megalitik yang berada di dalam pagar besi berwarna hijau.
Rombongan tersebut merupakan mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Sriwijaya (Unsri), yang didampingi dosen dan tenaga kependidikan. Kedatangan mereka merupakan bagian dari kegiatan Studi Proyek dan Riset Mahasiswa Semester Ganjil Tahun Akademik 2026 di Kota Pagaralam, Sumatera Selatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 31 Oktober hingga 1 November 2026 ini menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari sejarah secara langsung melalui penelusuran warisan peradaban megalitik Pasemah.
Ada tiga situs bersejarah yang menjadi lokasi kunjungan, yakni Situs Tebing Tinggi, Situs Belumai, dan Situs Tegur Wangi.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya mendapatkan materi sejarah secara teoretis, tetapi juga berkesempatan mengamati, mengidentifikasi, mendokumentasikan, serta menganalisis peninggalan sejarah dan budaya yang ditemukan di lapangan.
Studi proyek dan riset ini merupakan implementasi tujuh mata kuliah wajib yang mengintegrasikan teori perkuliahan dengan pengalaman empiris. Hasil kajian mahasiswa nantinya akan dikembangkan menjadi materi dan media pembelajaran sejarah berbasis teknologi digital.
Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran sejarah diharapkan menjadi lebih kontekstual, menarik, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Untuk memperkaya wawasan mahasiswa mengenai sejarah, arkeologi, dan pelestarian warisan budaya megalitik Pasemah, kegiatan ini juga menghadirkan Mario Andramartik sebagai narasumber. Dia dikenal sebagai penggerak kebudayaan dan pariwisata Sumatera Selatan sekaligus anggota Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Lahat.
Sebanyak 67 mahasiswa mengikuti kegiatan ini dengan didampingi empat dosen serta dua tenaga kependidikan dan administrasi.
Kepala Departemen Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (PIPS) sekaligus Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unsri, Dr. Hudaidah, M.Pd., mengatakan kegiatan Studi Proyek dan Riset merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus kompetensi mahasiswa.
Menurutnya, pembelajaran sejarah tidak cukup hanya dilakukan di dalam kelas. Mahasiswa perlu berinteraksi langsung dengan sumber-sumber sejarah agar mampu memahami berbagai peninggalan budaya berdasarkan pengamatan dan penelitian.
Melalui pengalaman lapangan, mahasiswa juga diharapkan mengembangkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan kreatif, termasuk keterampilan penelitian serta inovasi pembelajaran berbasis teknologi.
Selain aspek akademik, kegiatan ini diharapkan menumbuhkan kesadaran generasi muda terhadap pentingnya menjaga dan melestarikan warisan sejarah dan budaya lokal.
Terlebih, peradaban megalitik Pasemah merupakan salah satu kekayaan sejarah dan kebudayaan yang menjadi identitas penting Sumatera Selatan.
Kegiatan ini sekaligus mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan keempat tentang Pendidikan Berkualitas (Quality Education).
Studi Proyek dan Riset Mahasiswa Pendidikan Sejarah Unsri tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas akademik di luar kampus. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan pengetahuan sejarah, penelitian, teknologi, dan pelestarian budaya.[YKP]

